Sabtu, 29 Desember 2018

Laku Lampah Wanita Jawa Surakarta



Ini sebetulnya kegiatan yang sudah lama saya ikuti, Laku Lampah Wanita Jawa

Diadakan Minggu 22 april 2018 oleh komunitas sejarah di Solo yang bernama Laku Lampah

Untuk memperingati Hari Kartini 2018, Laku Lampah mengajak warga Solo napak tilas peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Wanita Jawa di jaman kerajaan Mangkunegaran

Sebetulnya dokumentasi ini mau saya simpan pribadi, tapi saya rasa lebih bermanfaat jika saya bagikan kepada para pembaca diseluruh Indonesia lewat blog saya

Jika anda belum tahu, Laku Lampah adalah komunitas sejarah dikota Solo yang sering mengadakan jalan-jalan untuk menyusuri peninggalan-peninggalan sejarah disudut kota Solo

Beberapa kegiatan Laku Lampah yang saya dokumentasikan sebelumnya

Laku "Rasa" Lampah Gajahan Solo
Jelajah Jazirah Arab Pasar Kliwon Solo bersama Laku Lampah
jika anda tertarik bisa follow FB resmi Laku Lampah

Napak tilas Wanita Jawa kali ini akan mengulas sekolah-sekolah wanita yang dibangun ketika jaman kerajaan Mangkunegaran

Peran wanita jawa tradisional dulu hanyalah dianggap sebagai pelengkap Pria, wanita harus menurut apa saja kata suami dan menjadi warga kelas dua yang terbatas kegiatannya

Tapi sejak tulisan Kartini yang membuka mata pihak Belanda maupun pihak nasional, tentang kehidupan rakyat khususnya wanita jawa tradisional yang kerap mengalami diskriminasi

Maka dibangunlah sekolah-sekolah khusus wanita yang mendidik para wanita jawa agar mempunyai ketrampilan dan kecapakan lebih dalam hidupnya

Kami akan diajak melihat bekas sekolah wanita di Solo dan peninggalan-peninggalan lainnya yang berkaitan dengan kiprah wanita jawa dalam sejarah

NB; jika ada kesalahan penulisan lokasi dan sejarah, mohon koreksinya

pagi jam 9 kami berkumpul didepan SMP 5 Surakarta
oh ya....untuk kegiatan ini kami hanya membayar 25rb saja
mendapat fasilitas air minum, bisa masuk berbagai lokasi keraton, dan penjelasan sejarah yang tak ternilai harganya

bangunan SMP 5 Solo ini dulunya adalah Sekolah Wanita Solosche Van Deventer Vereeneging
didirikan oleh yayasan Van Deventer yang berpusat di Belanda, dan dibantu oleh pemerintahan Mangkunegaran
salah satu peninggalan yang masih asli adalah patung muka raksasa seperti difoto ini

Conrad Theodore Van Deventer (1857-1915) sendiri adalah ahli hukum Belanda yang ditugaskan ke Indonesia waktu itu
Van Deventer berjuang untuk memperbaiki nasib pribumi Indonesia ke parlemen Belanda, atau istilahnya Politik Balas Budi 
Van Deventer juga terkesan akan tulisan Kartini tentang nasib para wanita Jawa, maka itu istri Van Deventer mulai mendirikan Yayasan Kartini (1913) dan membuka sekolah-sekolah bagi pribumi diberbagai lokasi di Jawa
sementara sekolah wanita Van Deventer di Solo ini dulunya adalah komplek rumah Pangeran (anak raja) Natadiningrat, yang dibeli Yayasan Van Deventer seharga 20.000 gulden 
dan 12 maret 1927 dibalik nama atas Yayasan Van Deventer lalu didirikan Sekolah Wanita Solosche Van Deventer Vereeneging
(jadi timelinenya rumah anak raja-dibeli yayasan-dijadikan sekolah wanita-lalu sekarang menjadi SMP 5 Solo, dan rumornya SMP 5 besok akan dipindah tempat...entah lokasi bersejarah ini akan berubah menjadi apa lagi)

lalu kamipun berpindah lokasi, menyusuri jalanan disamping SMP 5 Solo

kamipun sampai ke SMP 10 Solo
yang berada tepat persis belakang SMP 5 Solo

sekolah ini kerap dijuluki sekolah kandang, karena memang bangunannya mirip kandang
bisa anda lihat pintu kunonya mirip pintu kandang kuda
SMP 10 ini dulu sebetulnya masih satu komplek dengan Sekolah Wanita Solosche Van Deventer Vereeneging
tapi sekarang lahannya dpisah dijadikan 2 bangunan SMP (atau 3 SMP saya lupa)
disini dulu sering dijadikan latihan tari bagi siswi Sekolah Wanita Solosche Van Deventer Vereeneging yang diajarkan dan diawasi langsung oleh Gusti Kanjeng
Ratu Timur, permaisuri dari Mangkunegara VII

selain itu lokasi SMP 10 terdapat tugu PGRI atau Persatuan Guru Republik Indonesia
karena disinilah pertama kali dilangsungkan kongres 1 PGRI Desember 1946
para peserta Laku Lampah menyempatkan foto bersama didepan tugu PGRI
beda dengan nasib SMP 5 yang akan direlokasi, SMP 10 tidak akan dipindah karena permintaan khusus ibu negara
ya...ibu Iriana adalah alumni dari SMP 10 Solo

kamipun berpindah lagi ke lokasi selanjutnya
tak jauh dari keraton Mangkunegaran, arsitektur bangunan modern mulai menggantikan bangunan-bangunan yang sudah kuno

jika saya tidak salah dengar penjelasan dari panitia Laku Lampah
Timuran, nama kampung ini diambil dari nama salah satu istri raja

sudut-sudut kampung Timuran yang sudah modern

beberapa rumah yang masih bernuansa kuno

sesering apa anda melihat gerbang rumah dengan model lawas seperti ini?

warga solo yang sedang menjalankan kegiatannya sehari-hari

akhirnya kami sampai ke tujuan berikutnya

Ndalem Kepatihan Mangkunegaran
atau rumah anak raja Mangkunegaran

disinilah dulu berdiri SRV atau Solosche Radio Vereeniging
stasiun radio pribumi pertama kali di Hindia Belanda yang mengudara pada tahun 1933
yang menyiarkan berbagai seni rakyat seperti gamelan, wayang, ketoprak dan juga sesekali acara politik

sayangnya seperti kebanyakan Ndalem (rumah Pangeran/anak Raja) lainnya, bangunan ini sudah tidak terawat sama sekali
hanya sedikit yang bisa kita kenali kalau ini adalah bangunan peninggalan kerajaan
seperti motif lantai istimewa ini, yang sering dipasang di Ndalem-ndalem lainnya

padahal kalau dirawat pasti cocok untuk dijadikan museum atau wisata sejarah

Ndalem Kepatihan ini masih dihuni oleh beberapa keluarga keturunan Keraton
seperti plakat depan salah satu rumah ini

karena hampir tidak ada renovasi besar-besaran maka arsitekturnya masih terjaga
lihat rumah gaya klasik dengan banyak jendela seperti ini, cantik seperti film-film Hollywod

menurut cerita ketika Gusti Raden Ayu Siti Nurul Kamaril Ngasarati
Kusumawardhani atau yang akrab disapa Gusti Nurul, putri Raja Mangkugara VII sedang menari dihadapan ratu Belanda
tarian Gusti Nurul diiringi langsung gamelan jawa yang disiarkan dari SRV ini, karena tidak mungkin membawa seperangkat gamelan dan penabuhnya ke Belanda
adegan Gusti Nurul menari dihadapan Ratu Belanda masuk ke majalah Life terbitan Amerika 25 Januari 1937
anda bisa googling "Gusti Nurul Life Magazine"

melihat konstruksi kamar mandi jaman kerajaan dahulu

sudut-sudut Ndalem Kepatihan

selesai berkeliling dan mendengarkan cerita, kamipun berpindah ke lokasi selanjutnya

kami dibawa ke Taman Punggawan

dari taman Punggawan kami bisa melihat leluasa ke arah jalan Gajahmada, disini dulu adalah pusat kota Mangkunegaran
sebelah barat ada gedung Monumen Pers yang dulunya adalah Mangkunegaran Societet, yaitu tempat hiburan para bangsawan kerajaan dan belanda
sebelah timurnya adalah rumah dinas Wakil Walikota yang dulunya adalah Militer Societet, yaitu tempat hiburan para anggota militer Belanda dan legiun Mangkunegaran  

selanjutnya kami menuju bagian belakang dari Keraton Mangkunegaran

sayangnya hujan deras tiba-tiba datang mengguyur disiang hari
tapi panitia Laku Lampah masih tetap menjelaskan dan memberi materi kepada peserta

nampaknya hujan makin deras saja, terpaksa kegiatan dihentikan dan kami berteduh sebentar

didepan patung Gusti Nurul kami melanjutkan wisata sejarah ini
dulu siswi dari Sekolah Wanita Van Denveter diperbolehkan berlatih olahraga disini
dan memang bagian belakang istana Mangkunegaran terdapat berbagai fasilitas olahraga
seperti kolam renang (yang sekarang sudah surut tak terpakai), lapangan tenis, lapangan luas, dll

kami hanya bisa berkeliling sebatas lapangan tempat olahraga saja
area dalam Mangkunegaran dibatasi oleh gerbang yang tertutup rapat ini

hujan masih rintik-rintik
para peserta melanjutkan ke lokasi terakhir

Masjid Al Wustho Mangkunegaran
masjid yang dahulu digunakan oleh Raja untuk beribadah dan menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial

disini Laku Lampah Wanita Jawa ditutup dan para peserta beristirahat melepas lelah
sambil menunggu hujan reda

salah satu plakat disudut masjid yang menunjukkan kalau bangunan ini adalah Cagar Budaya yang diakui oleh Pemerintah



NB turut berduka cita atas kepergian Mas Fendy, ketua dan penggerak Laku Lampah
semoga keluarga diberi ketabahan dan segala kegiatan yang dilakukannya selama ini berguna bagi generasi penerus bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...