Selasa, 16 Mei 2017

Industri dan Pangan Yang Membesar

Sekitar tahun 1950 Ford dan Rockefeller Foundation memulai program Revolusi hijau, yang bertujuan meningkatkan produksi pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia yang terus meningkat

Mereka mulai mengembangkan gandum di Meksiko (1950) dan padi di Filipina (1960)

Revolusi Hijau

Revolusi hijau mendasarkan diri pada empat pilar penting yaitu, penyediaan air melalui sistem irigasi, pemakaian pupuk kimia secara optimal, penerapan pestisida sesuai dengan tingkat serangan organisme pengganggu, dan penggunaan varietas unggul sebagai bahan tanam berkualitas.

Revolusi Hijau sendiri masuk ke Indonesia ketika Orde Baru, melalui penerapan teknologi non-tradisional ini peningkatan hasil tanaman pangan berlipat ganda dan memungkinkan penanaman tiga kali dalam setahun untuk padi pada tempat-tempat tertentu.

Pertanian tradisional berubah menjadi pertanian industri



Produksi pangan melimpah, lalu apakah yang terjadi?

Ketika ada kelebihan pangan organik dalam jumlah besar, mau tak mau makhluk hidup harus mengkonsumsinya agar habis

Makhluk hidup ini hadir dalam bentuk metafora dan nyata, perusahaan makanan, industri etanol (bahan bakar etanol), peternakan (pakan ternak), manusia sebagai pemakan utama, tak ketinggalan mikroorganisme kecil lainnya

Dengan melimpahnya bahan pangan tentu akan mengakibatkan harga pangan murah dan lebih terjangkau

Lalu apakah itu berarti masalah kelaparan bisa teratasi? Sayangnya tidak

Bahan pangan sebagian besar dikuasai oleh industri-industri besar, dan para pemilik modal tidak akan rela perusahaan memberi cuma-cuma produknya ke desa terpencil di timur Indonesia

Dengan melimpahnya produksi pertanian maka harga rata-rata kalori ikut turun, lalu apa yang dilakukan industri makanan agar laba mereka tidak ikut turun?


Perbesar PORSI-nya! mengapa tidak membiarkan orang membayar lebih untuk porsi yang sedikit lebih besar?

Harga per-gram memang menurun, tapi perusahaan bisa menjual lebih banyak

Tinggal tambahkan perasa, gula, dan lemak (jenis makanan yang jarang ditemui di alam) maka manusia sebagai makhluk omnivora akan rela menelannya berapapun banyaknya

Hasrat pangan dapat dimanipulasi dengan mengelabui indra perasa dan sistem tubuh yang ditakdirkan mengkonsumsi makanan manis dan berlemak, makanan hasil industri sekarang menawarkan lebih banyak energi yang jarang ditemui di alam (coba sebutkan buah-buahan yang memiliki kandungan gula sama banyaknya dengan produk minuman bersoda)

Itulah kenapa dalam beberapa tahun terakhir anda menjumpai produk-produk makanan dengan porsi besar atau jumbo

Mie instan jumbo, minuman bersoda 3liter (hingga tutup botolnya keliatan mungil dibanding botolnya sendiri), coklat batang isi mede seberat 1kg (yup...itu ada)

Hingga makanan warung pinggir jalan yang berukuran besar, martabak manis jumbo (dengan beragam toping manis), mie pangsit dengan ukuran 2-3kali lipat, hot dog raksasa sepanjang 40cm, dsb



Tentu jika kita tidak bisa mengontrol hasrat makan ini akan berakibat buruk bagi kesehatan, segala sesuatu yang kita telan cepat atau lambat akan masuk dalam aliran darah dan menumpuk dalam bentuk glukosa

Inilah kenapa diabetes type 2 dan kegemukan menjadi masalah yang mengancam di negara berkembang

(oh ya....saya juga bermasalah dengan hal ini)


Mari kita lihat contoh makanan dengan porsi besar yang bisa anda dapatkan dengan mudah dipinggir jalan

 di solo dan kota sekitarnya mulai ramai penjual mie dan bakso jumbo
harganya pun sangat terjangkau
untuk porsi kecil 4.000 dan yang besar cuma 10.000!

 lihat ukurannya!

 satu mangkok cukup untuk 2 porsi orang dewasa
tapi dengan harganya yang murah, kita dengan enteng bisa memesan satu porsi lagi untuk satu orang

 sebenarnya kalau mau dicermati
isinya cuma bakso dengan sebagian besar dari tepung, kuah dengan campuran perasa kaldu, mihun, dan sedikit sawi
apakah sudah masuk menu yang sehat? saya juga tidak tahu

ini belum termasuk paling jumbo lo....
beberapa tempat di solo menyediakan bakso yang lebih besar lagi!



Bahan: "Omnivore's Dillema" oleh Michael Pollan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...