Rabu, 21 Desember 2016

Praktek Membuat Mie Waluh dan Mie Ubi Simfoni

Di dunia tradisional, bahaya yang dihadapi masyarakat datang dari berbagai faktor

Kebanyakan datang dari faktor luar atau lingkungan, seperti bencana alam, serangan binatang buas (ular, singa, nyamuk, kalajengking, dll), penyakit menular akibat virus, kekerasan antar suku, dan kelaparan

Bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan ini datang tanpa bisa dikontrol oleh individu yang terkena

Masyarakat atau individu hampir tidak punya kuasa jika desanya hancur diterjang banjir atau diserang kawanan nyamuk membawa demam berdarah

Sementara masyarakat modern dimana keamanan dan kesehatan sudah teratur, hal-hal tersebut bisa kita minimalisir

Walaupun tentu masih ada beberapa kasus penyakit menular, kekerasan, atau bencana alam, tapi sebagian besar bahaya itu berhasil dihindari berkat campur tangan pemerintahan yang kuat

Vaksin penyakit menular bagi anak-anak, hukum yang ditegakkan, pembangunan waduk atau hujan buatan telah meminimalisir bencana yang mengancam jutaan jiwa

Begitupun dengan bencana kelaparan atau malnutrisi yang kerap mengancam masyarakat tradisional

Pemerintahan seluruh dunia bekerja keras menghabiskan dana untuk riset dan mengembangkan varietas pangan baru agar stok pangan bagi masyarakat terjamin

Dengan semua kemajuan teknologi dan pangan ini bukan berarti masyarakat modern terbebas dari segala bahaya

NCD (Non Communicable Disease) atau Penyakit Tidak Menular, efek dari gaya hidup modern kini menjadi ancaman serius di dunia

Penyakit NCD seperti Hypertensi, Diabetes, Jantung, Hyperkolesterolmia (kolesterol tinggi) adalah salah satu penyebab kematian yang paling jamak ditemukan saaat ini

10 Penyakit Paling Mematikan di Indonesia

Berbeda dengan serangan binatang buas atau kebakaran hutan, penyakit NCD ini hampir sebagian besar bisa dihindari jika kita menjaga makanan dan olahraga fisik sehari-hari

Jika boleh agak sinis, sebagian besar individu yang mempunyai penyakit NCD dengan kesadaran penuh telah mengakibatkan kerusakan bagi badan mereka sendiri

(yup, saya dulu terkena hipertensi...sekarang dengan pola makan sehat dan olahraga teratur, tekanan darah sudah mulai membaik)

Beberapa kali saya bertemu dengan penderita hipertensi atau diabetes karena gaya hidup tidak sehat mereka ketika muda

Dan jika saya beri nasehat untuk memperbanyak sayur, buah, kurangi gula-garam, perbanyak olahraga

Banyak yang menolak, dengan alasan tidak mau ribet, tidak doyan sayur, gak suka makanan hambar....(ah, anda pernah ketemu orang seperti ini kan?)

Alasan selanjutnya yang tidak bisa kita ingkari adalah, dengan kemajuan industri pangan sekarang semakin susah mencari makanan sehat

Industri pangan dijejali produk instan, nutrisi rendah, tinggi garam/gula (supaya awet disimpan di rak supermaket)

Tuntutan kerja lembur atau sekolah yang menyita waktu, mau tak mau memaksa individu untuk mengkonsumsi makanan siap saji yang murah dan mengenyangkan tanpa memikirkan nutrisi didalamnya

Tapi kesadaran masyarakat atas pangan sehat mulai bermunculan, tren makanan sehat pelan-pelan menjamur dibeberapa komunitas

Salah satu produk makanan sehat yang tersedia dipasar sekarang adalah mie waluh, seperti yang sudah saya ulas sebelumnya di Mencicipi Mie Waluh Simfoni



Mungkin anda belum percaya kalau yang saya makan itu bukan mie waluh, jangan-jangan cuma mie biasa diberi pewarna kuning?

Kebetulan beberapa minggu sebelumnya Simfoni solo mengadakan pelatihan gratis membuat mie waluh, agar masyarakat bisa membuat pangan sehat sendiri dirumah

(sudah saya share di FB saya dulu ya...jangan protes kalau anda tidak ikut, hi3x)



ancer-ancer di sebelah utara pas pasar buah Sar Gede
link FB nya Simfoni

Gratis tanpa biaya apapun! Mari kita lihat



Awas bandwith killer, ada 60 foto ukuran medium, step by step membuat mie waluh dari nol hingga matang

Persiapkan bandwith dan memory anda, tutup aplikasi lain dulu, selamat menikmati :)


acara dimulai jam 11:00
peserta yang datang tidak hanya ibu-ibu
tapi bapak-bapak yang tertarik ingin hidup sehat pun ikut datang



ibu Tina pemilik Simfoni sekaligus pengajar kita dalam praktek membuat mie waluh kali ini
sesuai dengan namanya "Simfoni", ibu Tina suaka sekali menyanyi
dan sering diadakan diskon mie waluh dengan syarat menyanyi atau tebak lagu

sekarang masuk ke praktek
tahap pertama membersihkan waluh dengan semprot cairan pembersih khusus makanan

belah-belah waluh, tidak usah dikupas supaya ketika ditanak dagingnya tidak pecah
waluh yang digunakan adalah waluh ketan yang terkenal pulen

selain waluh kita juga membuat mie ubi ungu
cuci ubi ungu dengan cairan pembersih khusus makanan sampai tanah yang menempel bersih

tanak utuh dengan potongan waluh
saya lupa berapa menit ditanak, sekitar 15-20 menit
dicek kalau sudah empuk dagingnya, tandanya sudah matang

selagi menunggu waluh dan ubi matang
bersihkan meja-meja dengan cairan pembersih makanan
Yup...bu Tina memang ketat soal kebersihan, makan disini dijamin terjaga kebersihannya

nah ini merk pembersih yang ibu Tina gunakan
bukan sembarang cairan pembersih, ini yang merk mahal he3x

sementara peserta lain mendapat tugas untuk belanja ke Pasar Gede disebrang jalan
beli telur, tepung, dll

setelah bahan lengkap
gandum diayak, dipilih yang lembut

waluh dan ubi yang sudah matang langsung dikupas selagi panas

mumpung panas dan empuk, dilembutkan

hati-hati tangan anda karena ubinya panas sekali

menghaluskan ubi ungu

kenapa harus panas?
karena jika sudah dingin maka dagingnya mengeras dan akan susah dilembutkan

sekarang masuk membuat adoanan
pecahkan telur dalam gelas

masukkan daging waluh yang sudah lembut sampai penuh
jangan lupa tambah sedikit garam


pindah ke mangkok dan aduk sampai tercampur rata

setelah tercampur rata masukkan ke tepung gandum
tepung gandumnya cukup 2 gelas saja

lalu aduk lagi sampai kalis
jika kurang kesat tambah lagi tepung secukupnya

ibu Tina menjelaskan tip dan trik membuat adonan yang benar kepada peserta
ternyata cuaca juga mempengaruhi membuat mie, cuaca yang lembab karena hujan membuat adonan mie mudah diuleni

sebagai perbandingan ibu Tina membawa mie yang sudah jadi

peserta tinggal menyesuaikan adonan yang dibuat dengan tekstur mie yang sudah jadi
"Kalisnya segini lo...kalau terlalu lembek nanti mienya gak bisa dimasak"

oh iya saya lupa, di Simfoni tidak memakai penyedap rasa MSG
yang dipakai adalah penyedap alami dari jamur seperti ini

sebagai perbandingan dibuat juga adonan dengan campuran MSG
nanti akan kita lihat tekstur dan rasa mie dengan campuran MSG ini 

adonan waluh yang sudah kalis
warnanya kuning tanpa pewarna buatan

adonan ubi ungu yang sudah kalis
warnanya ungu tanpa pewarna buatan

lupa lagii...
garam yang dipakai juga garam khusus lo, ini garam low sodium, cocok untuk diet
merknya bisa anda lihat sendiri difoto

saatnya memipihkan adonan mie 

bu Tina menunjukkan postur yang benar dalam memipihkan adonan
agak jinjit dan gunakan berat tubuh supaya tenaga tidak terkuras habis

setelah adonan pipih, dimasukkan sekali lagi ke mesin manual

lalu digiling menjadi mie
sayangnya adonan kali ini gagal, bisa anda lihat mienya putus kecil-kecil

diulangi lagi, ditambah tepung dan dipipihkan sekali lagi

digiling sekali lagi

taraaa.....jadi mie ubi ungu yang kenyal dan panjang

kali ini adonan mie waluh disiapkan

dipipihkan sekali lagi

digiling

jadi mie waluh yang kuning dan menggoda selera makan 
slurrrpppp

supaya mienya tidak lengket
begitu keluar mesin giling, dicampur sedikit tepung sambil di... 
(aduh apa namanya, kayak disuwir2 gitu lo)

saatnya peserta mencoba menggiling mie sendiri
mbak Irene memipihkan adonan mie waluh dengan bersemangat

mas Kristiawan dengan badan kekarnya, 
tampak mudah menekan adonan sampai tipis

saya cuma numpang foto saja
ternyata berat dan capek hiks3x

skip..skip....adonan para peserta sudah menjadi mie 
saatnya kita masak!
mbak Irene menyiapkan bumbu dan sayurannya

ibu Tina yang langsung turun tangan memasak mie Ubi

taburi bumbu rahasia, supaya mie gurih tanpa campuran penyedap rasa
sstt....salah satu bumbu rahasianya, pakai bubuk mede!

mie ubi topping jamur mataaaangg....siap santap

tidak lupa kami juga mencoba adonan mie dengan MSG tadi

digiling

inilah mie waluh campur MSG
bedanya dalam proses membuat adonan lebih lama, adonan lebih keras, kering, 
capek dibadan

ketika ditarik mie molor tidak mudah putus
setelah tau beda mie tanpa dan mie campur MSG, mie dengan MSG kita singkirkan

tips lagi
jika anda tidak punya mesin giling manual
anda bisa buat mie manual dengan mengirisnya satu persatu
prosesnya lama tapi he3x

setelah tadi memasak mie ubi ungu
saatnya mie waluh yang kuning dan cantik kita masak

rebus mie waluh

siapkan bumbu dimasing-masing mangkok


angkat mie yang sudah matang, masukkan air es agar panas hilang
dan mie tidak terlalu lembek
taruh piring+bumbu tadi dan aduk

mie waluh topping jamur plus granule mede pun jadi
karena lamanya praktek membuat mie ini (3 jam lebih) perut pun keroncongan
mari maaakkkaaann!!!
(gratis lo makannya...tis...tis...!)

selain sehat dan alami, makan mie ini pun bikin kita cepat kenyang
gak percaya? 
Silahkan datang langsung ke Simfoni di pasar Gede :)


bahan; "The World Until Yesterday" Jared Diamond

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...