Minggu, 13 November 2016

Para Lanjut Usia

Beberapa waktu terakhir kita sering melihat berita di sosial media tentang warga Lanjut Usia (Lansia) yang masih bekerja mencari nafkah di usia yang seharusnya memasuki masa pensiun dan menikmati hidup dengan anak-cucu


Banyak yang bersimpati dan menolong dengan membeli dagangannya, contoh gerakan sosial yang bagus sekali dari masyarakat Indonesia.

Salut saya untuk aksi sosial seperti ini!

Pokok permasalahan yang mengganggu saya (dan pasti juga anda) adalah;

"Apakah peran dan fungsi sebenarnya Lansia dalam masyarakat?"

Mari kita bahas dulu definisi tentang Lansia, menurut WHO umur yang masuk Lansia adalah 60th

Sementara di beberpa negara Afrika yang fasilitas kesehatannya kurang baik, umur Lansia mulai dari 50-55th
http://www.who.int/healthinfo/survey/ageingdefnolder/en/

Ini menunjukkan ukuran Lansia harus disesuaikan dengan standar masyarakat setempat, tidak bisa dipukul rata sama antar negara/wilayah

Begitu juga perlakuan generasi muda terhadap Lansia berbeda-beda ditiap daerah



Dalam kelompok tradisional pemburu yang hidup nomaden, mengurus lansia termasuk beban bagi kelompoknya

Bayangkan sekumpulan nomaden yang terdiri dari bayi, anak-anak balita, perempuan, berpindah ke wilayah baru untuk mencari sumber daya yang baru, memikul perkakas dan bahan pangan tanpa alat angkut

Menambahkan orang lansia atau orang sakit dalam kelompok tersebut termasuk hal yang sulit dan membahayakan bagi anggota kelompok lain, pilihan yang masuk akal adalah mengorbankan anggota yang tidak produktif untuk menjamin anggota lain tercukupi kebutuhan pangannya (dan bisa saling menjaga)

Bagaimana cara menyingkirkan anggota lansia dikelompok tersebut?

Pernah mendengar cerita viral tentang lansia Jepang yang ditinggal anaknya di hutan?

Yup salah satu cara yang paling mudah adalah mengabaikan lansia sampai meninggal, membiarkan berkeliaran sendiri, atau meninggalkannya sendirian ketika kelompok berpindah tempat mencari kampung baru

Metode ini dilaporkan terjadi di antara orang-orang Inuit di Artik, orang Hopi di gurun Amerika Utara, orang Witoto di Amerika Selatan, dan Aborigin Australia (the world until yesterday, jared diamond, hal 267)

Metode lain yang paling banyak tersebar adalah membunuh tanpa persetujuan dengan cara mencekik, membekap, atau mengubur hidup-hidup

Thalaikoothal Membunuh Orangtua di India



Bagi kita yang hidup dalam budaya modern tanpa pernah mengalami paceklik kekurangan makanan, kesehatan dan keamanan dilindungi negara, tentu ngeri mendengar itu semua

Tapi apalagi yang bisa dilakukan sekelompok orang yang hidup nomaden, menggantungkan hidup dari alam, dengan pangan terbatas, terhadap anggota lansianya? Mungkin juga dulu korban melakukan hal yang sama pada orangtua mereka

Pada kenyataannya di masyarakat perkotaan pun kita sering menjumpai keluarga yang kebingungan, untuk melanjutkan pengobatan terhadap anggota keluarga mereka yang sakit terus menerus atau memberitahu dokter untuk menghentikan perawatan medis lebih lanjut.....

Tentu contoh yang saya tulis diatas hanya sebagian kecil saja dilakukan oleh masyarakat tradisional, pun sekarang karena campur tangan pemerintah masing-masing daerah maka praktek tersebut mulai ditinggalkan



Manusia pada akhirnya akan mencapai batas usia ketika tidak lagi kuat bekerja 8jam sehari, mencangkul seluruh lahan pertanian sendiri, atau membawa beban berat hasil panen dari ladang kerumah

Ketika hal itu terjadi pada kita (dan pasti akan terjadi), apa yang dapat dilakukan lansia agar tetap berguna bagi masyarakat dan tidak dicampakkan begitu saja?

Lazimnya diberbagai masyarakat tradisional para lansia sangat dihormati karena pengalaman bertahun-tahun mereka akan berbagai macam obat tradisional, pengetahuan jenis tanaman yang aman dimakan, cuaca yang tepat untuk menanam pangan, agama, relasi, politik, dsb

Mereka seperti ensiklopedia berjalan yang penuh tentang pengetahuan lokal, yang tidak bisa kita temui di buku, majalah, maupun internet

Para lansia juga mempunyai keunggulan besar dibidang sosial karena telah menghabiskan seumur hidup menjalin hubungan antar keluarga maupun antar suku, mereka dapat memasukkan anak mereka kedalam jaringan hubungan tersebut tanpa ada konflik

(kini anda mengerti kenapa anak pejabat/orang kaya kebanyakan menjadi pejabat/orang kaya juga)

Pemimpin politik juga didominasi oleh para lansia, hingga ada istilah "tetua suku"

Dan kebiasaan ini tetap berlaku didunia modern

Satu lagi jasa lansia meskipun tidak dapat memberi keuntungan politik atau jejaring bisnis adalah merawat bayi atau cucu mereka

Agar anak mereka lebih leluasa mencari nafkah diluar rumah dan menghadapi sedikit beban, maka para lansia dengan senang hati merawat cucunya hingga bertahun-tahun



Di dunia modern, nilai-nilai tersebut mulai luntur dan menghilang

Lansia sekarang dianggap semakin kurang berperan dalam masyarakat dibanding lansia jaman dahulu, dikarenakan perkembangan teknologi yang cepat, pendidikan formal, dan kemampuan membaca masyarakat yang semakin merata

Kini kita bisa menyimpan pengetahuan dalam suatu tulisan dan bisa diwariskan ke generasi selanjutnya, anak-anak hingga remaja diwajibkan bersekolah dan mendapat pendidikan

Hal ini telah menghapus peran lansia sebagai tempat menyimpan informasi yang dulu sering digunakan masyarakat ditambah begitu cepatnya perkembangan teknologi membuat keahlian-keahlian yang telah dipelajari 30-40 tahun yang lalu menjadi tidak berguna dimasa sekarang


Di sisi lain, sekarang lansia bisa menikmati perawatan kesehatan yang lebih baik dibanding jaman dahulu



Lalu apa yang harus kita lakukan agar orang tua kita besok, atau ketika Kita sendiri mulai menua dan lanjut usia agar bisa tetap bermanfaat bagi masyarakat?

Contoh yang bagus bisa kita ambil dari pemerintahan Jepang, disana lansia diberi fasilitas untuk berkumpul dan membentuk suatu biro konsultasi atau memberi pelatihan-pelatihan sesuai keahlian dibidang mereka masing-masing ketika muda

http://majalah1000guru.net/2011/02/lansia-di-jepang/

Di beberapa tempat atau jika anda perhatikan sekitar anda, pekerja kerajinan terbaik kerap kali adalah mereka yang sudah lanjut usia


Salah satu koki Sushi terhebat di Jepang,
Jiro masih aktif bekerja di usianya yang ke-91

Ini membuktikan bahwa keahlian para lansia lebih matang daripada pekerja muda, dan bisa kita manfaatkan untuk memberi bimbingan kepada para penerusnya

Dengan memberi lansia kegiatan yang bermanfaat dibalik meja, maka otomatis akan mengangkat martabat lansia di masyarakat

Dan kejadian lansia yang masih bekerja membanting tulang seperti yang sering kita lihat diberita akhir-akhir ini semoga tidak akan terjadi lagi

Tentunya merancang kondisi yang sesuai bagi lansia adalah tugas kita para generasi muda agar orangtua atau kita sendiri kelak dapat hidup berdampingan dengan dunia dan generasi yang semakin modern


Bahan: "The World Until Yesterday" oleh Jared Diamond

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...