Kamis, 26 Mei 2016

Rwanda, Ledakan Populasi, dan Bencana Dunia Modern

Genosida yang terjadi di Rwanda tahun 1994 adalah salah satu tragedi kemanusiaan yang paling menyedihkan di dunia modern saat ini

Perkiraan korban yang meninggal adalah 500.000-1.000.000 jiwa manusia

Setelah perang dunia II, jumlah korban tewas ini hanya kalah dari pembantaian di Kamboja 1970-an dan Bangladesh tahun 1971

(beberapa sumber tak resmi juga menyebutkan bahwa tragedi 1965 di Indonesia menelan korban 1jt orang lebih)

Pembunuhan ini terjadi antar 2 suku besar yang ada di Rwanda yaitu Hutu (85% populasi) dan Tutsi (sekitar 15% populasi)

Dalam bidang ekonomi, suku Hutu banyak bergerak di bidang pertanian dan Tutsi penggembala

Disebut suku Hutu berciri tubuh lebih pendek, gempal, berkulit gelap, dan berhidung pesek

Sedang suku Tutsi lebih jangkung, langsing, berkulit terang, dan berdagu runcing


Ketika Rwanda masih dalam pemerintahan kolonial Jerman (1897) dan Belgia (1916), dua suku ini dibedakan dalam mengisi posisi di pemerintahan

Suku tutsi yang lebih jangkung dan berkulit terang dianggap lebih mirip orang Eropa, jadi kebanyakan posisi pemerintahan diisi oleh suku tutsi

Pada 1930-an pemerintah kolonial Belgia mulai mewajibkan dua suku ini membawa kartu tanda penduduk untuk menunjukkan perbedaan mereka, sehingga perbedaan etnik dua suku ini makin meruncing

Masalah datang ketika negara ini merdeka tahun 1962. Ketika kemerdekaan mendekat, suku Hutu mulai berjuang menggulingkan dominasi suku Tutsi di pemerintahan dan menggantikannya dengan orang-orang Hutu

Pemberontakan-pemberontakan kecil terjadi, tapi suku Tutsi berhasil mempertahankan dominasinya

Kejadian-kejadian kecil ini seakan bara dalam sekam, semakin menambah intensitas kebencian antar dua suku

Tahun 1973Jenderal Habyarimana dari Hutu berhasil menumbangkan pemerintahan, dan menjalankan pemerintahan yang adil tanpa membedakan perbedaan suku

Selama 15 tahun Rwanda berkembang pesat, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan Rwanda mendapat pujian dari berbagai negara

Sayangnya karena kemajuan yang terlalu pesat, pemerintahan Jenderal Habyarimana lupa memperdulikan lingkungan, banyak terjadi penggundulan hutan, erosi tanah pertanian, dan hilangnya kesuburan tanah karena pertanian pangan secara terus menerus

Pertumbuhan populasi yang meningkat tajam selama pemerintahan yang makmur juga turut berperan serta dalam tragedi ini

Rwanda adalah negara dengan luas 26.338km ( hanya seperlima luas pulau jawa) dengan populasi ditahun itu mencapai 7juta jiwa, Rwanda termasuk wilayah berpopulasi paling padat di Afrika

Kepadatan rata-rata populasi Rwanda hampir sepuluh kali lipat dari tetangganya, Tanzania

Ditahun itu kepadatan perkilometer persegi penduduk Rwanda bahkan melampaui Britania Raya dan mendekati negara Belanda, namun Britania dan Belanda mempunyai keunggulan dibidang pertanian yang telah ditata dengan sangat efisien untuk memberi makan keseluruhan populasinya

Sementara Rwanda hanya sekedar menebangi hutan dan mengeringkan rawa untuk memperoleh lahan baru, menanam 2-3kali berturut-turut dari satu ladang dalam setahun, dan tidak menerapkan keluarga berencana yang efektif

Disebutkan keseluruhan negara terlihat bagai ladang dan kebun pisang, bukit-bukit ditanami sampai ke puncak-puncaknya tanpa mencoba meminimalkan erosi dengan membuat terasering atau menanami bukit sesuai kontur

Pembukaan hutan ini menyebabkan kekeringan di sungai-sungai dan curah hujan menjadi kurang teratur, akhir 1980 kelaparan mulai menyerang dan 1989 kekurangan makanan karena gagal panen benar-benar terjadi

Jadi ketika 1989 harga teh dan kopi dunia anjlok (yang merupakan komoditi utama) dan kekeringan lahan karena sebab yang saya sebutkan tadi maka ekonomi Rwanda tiba-tiba berhenti

Konflik-konflik antar suku pun terjadi, perebutan lahan, pencurian karena kelaparan, dan diperparah ketika 6 April 1994 pesawat kepresidenan Rwanda yang membawa Presiden Habyarimana ditembak jatuh oleh misil tak dikenal di bandara Kigali ibukota Rwanda

Tidak jelas siapa pelakunya, tapi belum genap satu jam setelah pesawat jatuh para ekstremis Hutu mulai melaksanakan rencananya untuk menghabisi Perdana Menteri dari Hutu dan anggota lain yang dianggap melindungi suku tutsi selama ini

Begitu pihak oposisi yang moderat itu disingkirkan para ekstrimis mulai menyasar warga suku Tutsi, seruan di radio mulai disiarkan untuk membunuh setiap "kecoak" (istilah orang tutsi), mengumpulkan orang tutsi di kamp khusus yang katanya untuk diamankan dimana mereka nanti akan dibantai, dan mengejar orang-orang tutsi yang masih selamat

Dalam enam minggu diperkirakan 800.000 orang suku Tutsi, sekitar 3/4 populasi tutsi telah terbunuh, genosida atau pembasmian suatu suku ini baru terhenti ketika Front Patriotik Rwanda (FPR) yang berisi campuran suku Hutu maupun Tutsi mulai melawan pemerintahan ekstrimis yang berkuasa


FPR yang bedisiplin tinggi dan tidak mengikut sertakan penduduk sipil menyatakan kemenangan penuh pada 18 juli 1994, mereka mulai membentuk pemerintahan baru, merekonsiliasi dan menyatukan penduduk, serta mendorong warga Rwanda agar bersatu tidak membedakan diri mereka suku Tutsi maupun Hutu

Ini hanyalah sedikit contoh bagaimana bencana dunia terjadi karena pengelolaan lingkungan yang tidak tepat, tentu selain faktor lingkungan dan tekanan populasi yang meledak, bencana ini terjadi juga karena keputusan politik, kebencian antar suku, konflik kecil-kecil yang terjadi sebelumnya, maupun faktor ekonomi dunia (harga kopi yang jatuh)

Apa yang saya coba sampaikan adalah, pengelolaan lingkungan yang tidak tepat dapat mempengaruhi berbagai sektor lain dalam hidup kita

Pengambilan keputusan yang terlihat benar, seperti mengubah hutan liar untuk dijadikan pertanian, atau mempunyai banyak anak agar rejeki bertambah, ternyata dapat berdampak buruk dan membahayakan bagi umat manusia

(dulu ketika tingkat kematian anak masih tinggi, mempunyai anak yang banyak adalah hal wajar agar kelangsungan suatu keturunan tetap terjaga)

Jadi mari kita mulai dari sekarang untuk mengelola alam dan lingkungan sebaik-baiknya, dimulai dari hal-hal kecil yang terlihat sepele

Seperti menghemat air, memilih bahan pangan bebas pupuk kimia, atau menolak menggunakan produk-produk yang dalam prosesnya merusak alam

Supaya anda tidak bosan mari kita lihat beberapa hasil panen dikebun saya dalam bulan ini....:)

pare
anda bisa melihat post saya tentang menyimpan benih pare



sayang keduluan tikus hiks3x

cabai merah besar
lumayan buat persiapan menjelang puasa

terong hijau
salah satu tanaman favorit keluarga





 semua tanaman sayur diatas bisa anda dapatkan benihnya di
dan terakhir mari kita nikmati tumis sawi dan telur ini
hap!

Bahan: "Collapse" oleh Jared Diamond

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...