Sabtu, 20 Februari 2016

Jalan-jalan ke Air Terjun Jumog dan Candi Sukuh

Berawal dari artikel National Geographic
Air Terjun Jumog, Sempat Dijuluki Surga yang Hilang

Saya dan Erlanda -juragan tiket- teman saya pun penasaran dengan wisata "Surga yang hilang ini"

Lokasi air terjun Jumog berada di Karanganyar Jawa Tengah, jika anda dari Solo cukup 1,5-2 jam saja perjalanan dengan sepeda motor

Mencari lokasinya pun tak begitu sulit karena masih satu arah dengan wisata air terjun Tawangmangu, anda tinggal melihat papan rambu yang banyak dipasang dipersimpangan jalan

Bertanya dengan sopan ke penduduk setempat tetap masih bisa kita andalkan jika tersesat

Air terjun Jumog sempat dijuluki Surga yang Hilang karena sebelum resmi dibuka untuk umum pada 2004, air terjun ini ditutupi semak belukar

Warga dan Pemerintah Desa (Pemdes) Berjo bergotong royong membabat semak dan membuka jalan sehingga air terjun ini bisa dilihat umum

Karena masih tergolong tempat wisata baru maka beberapa fasilitas pendukung belumlah selengkap air terjun Tawangmangu

Tempat parkir yang tak begitu luas dan toko cinderamata yang masih jarang akan anda temui disini, tapi jangan khawatir soal warung makan atau minum

Anda bisa dengan mudah mengisi ransum jika mulai kelaparan, sate kelinci, sate ayam, makanan kecil, banyak bertebaran disepanjang jalan

Kamar mandi pun bisa dengan mudah anda temukan

Kawasan yang masih asri dan rimbun pepohonan menambah kesan menarik bagi pengunjung yang datang kesini

Yuk kita lihat saja...

 akhirnya setelah muter-muter ketemu juga lokasinya
untung sahabat saya ini juragan tiket yang doyan traveling
jadi seni melacak jejak dan menemukan tempat wisata sudah begitu terasah


 tiketnya murah, cuma 3 ribu!

 siap-siap menuruni (dan menaiki pulangnya) 116 anak tangga
lumayan buat olahraga siang

 akhirnya sampai jugaaa...
walaupun dihari kerja tetap ramai pengunjung

 tapi walaupun ramai tidak sepadat lokasi wisata lainnya yang sudah terkenal
jadi kita masih bisa main air dengan leluasa

 kalau anda mau bermain dan mendekat ke air terjun
jangan lupa siapkan baju ganti ya
dan makanan kecil, soalnya dingin perut mudah lapar hahaha

 cantik sekali dipandang dari kejauhan
air terjun, hutan yang asri, jembatan kayu, dan sungai yang mengalir diantara bebatuan

 sayang beribu sayang, beberapa spot terkena ulah tangan iseng orang Indonesia
masih ingat dengan berita grafiti iseng di gunung fuji Jepang dulu?

hosh...hosh.....naiknya lebih capek daripada turunnya

Karena waktu masih siang maka kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Sukuh

Kompleks candi Hindu yang terkenal karena agak kontrovesial karena banyak obyek Lingga dan Yoni

Sebetulnya Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan ini dibeberapa kebudayaan dunia bukanlah hal tabu

Bahkan di salah satu kebudayaan ada yang menyakini proses orgasme adalah ritual spritual seorang manusia dalam mencapai ketenangan jiwa untuk menyatu dengan sang Pencipta

Jadi mari kita lihat juga dokumentasi kami tentang candi Sukuh

https://id.wikipedia.org/wiki/Candi_Sukuh

 setelah 45 menit dari lokasi air terjun jumog
akhirnya sampai juga ke lokasi Candi Sukuh
pastikan anda mengisi bensin sebelumnya ya..karena tidak ada pompa bensin disini ^_^
yang boncengan juga harus hati-hati, tanjakannya mantab!

 sebelum memasuki area candi, pengunjung wajib memakai kain kampuh
mirip di Bali

 kalau anda tidak bisa memakai kain kampuh
penjaga dengan senang hati akan memakaikan dengan sopan

 nah...akhirnya sesi selfieee

 sepi tidak ada pengunjung lain
jadi bisa photo-photo sampai puasss

 salah satu relief lingga dan yoni yang terkenal itu

 selain candinya yang keren dan misterius
disini juga dirawat taman bunga yang tak kalah cantik lo

 beberapa patung-patung disekitar candi utama

 sayangnya bangunan candi utama sedang direnovasi
jadi tidak bisa foto didepan sini, padahal keren lo mirip piramid di suku Maya

kenapa diberbagai kebudayaan kuno dunia sering ditemukan bangunan mirip piramid
ini ada teorinya juga, diduga karena berbagai budaya itu ingin meniru gunung untuk bisa mendekatkan dirinya ke dewa/pencipta tertinggi mereka untuk berdoa atau memberi sesembahan
jadi bentuk yang paling mendekati ya bentuk piramid itu
mirip dengan bentuk pedang yang hampir sama diberbagai budaya dunia walau dulu budaya mereka tidak bersinggungan
karena alat untuk menyayat dan menusuk tubuh musuh yang paling mudah dibentuk adalah besi pipih panjang yang tajam disisi-sinya maka terbentuklah pedang dengan berbagai versi

 altar berbentuk bulus atau kura-kura air tawar
untuk apa ya altar ini?

 garuda?

 tablet-tablet batu yang menggambarkan cerita Kidung Sudamala

 kami masih belum mendapat info resmi kenapa bangunan utama dipugar
apakah diperbaiki atau jangan2 digali Lara Croft untuk mengambil mustika berharga didalamnnya?
halah....entahlah hahahaha

 saatnya pulanggg....hati-hati ya, turunannya tajam sekali
siapkan rem tangan dan rem kaki anda di posisi siaga

 selain disuguhi pemandangan pegunungan yang adem sewaktu pulang
ada yang menarik juga, ternyata hampir didepan rumah penduduk ada kebun sayur!
tampaknya karena cuaca yagn sejuk dan tanah yang masih lapang sangat dimanfaatkan oleh penduduk desa sini untuk menanam pangan mereka sendiri
persis seperti yang saya singgung di Membuat Vertikultur PVC Bekas
bahwa masyarakat perkotaan lebih rentan akan krisis pangan karena tidak punya lahan sendiri untuk menanam pangan mereka sendiri 

lihat, semaian sayur dibawah atap plastik ini 
kerennn!!
walaupun dijual, tapi anda harus pastikan bibit hidup sayur yang anda beli tahan dengan cuaca dirumah nanti
karena kasus yang paling sering, pengunjung membeli bibit tanaman dari dataran tinggi
begitu ditanam dirumah mereka yang dataran rendah dan panas, tanamannya tidak kuat dan mati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...