Kamis, 11 Juni 2015

Kaizen No Matsuri 2015 SMA 5 Solo

Dulu sebelum girlband Korea atau bintang-bintang India merajai layar kaca Indonesia, ada satu kebudayaan Asia lain yang telah menancapkan kukunya dalam-dalam ke generasi muda Indonesia

Yup! Jepang telah berhasil memperluas budayanya ke Indonesia lewat komik, anime, maupun band sejak tahun 1980an

Siapa yang tidak kenal komik Dragon Ball, kartun Doraemon, atau grup band L'Arc en Ciel (salah satu pengisi ost samurai X)

Memang sebelum budaya Pop itu semua masuk ke Indonesia, India lebih dulu masuk dengan kultur Hindunya

Tapi kali ini saya akan membahas alkuturasi budaya yang agak modern, setelah kemerdekaan Indonesia tepatnya

Keuntungan Jepang lebih awal masuk ke negara ini benar-benar terasa sekali pengaruhnya dibanding serbuan budaya Korea

Jepang telah mengeluarkan komik dan film yang menarik warga Indonesia mulai dari kalangan anak-anak, remaja, hingga dewasa

Ada Kobo Chan dan Doraemon untuk konsumsi ketika kita masih SD

Begitu remaja kita disodori komik dan anime yang memang diperuntukkan untuk konsumsi remaja yang mulai suka berpikir kompleks, Samurai X, Death Note, dan Evangelion contohnya

Belum video adultnya yang membanjiri pasar permesuman remaja kita yang kebanyakan diisi kalangan dewasa

Game-game buatan Jepang juga memenuhi Indonesia dari jaman mesin arcade sampai konsole Play Station

Semua lapisan generasi seakan tak luput diserang oleh budaya Jepang

Efek dari komik, anime dan game ini terasa sekali, para remaja mulai mengenal kuliner khas Jepang, festiva-festival Jepang, gaya busana Jepang, dll

Dan ditingkat yang lebih serius, masyarakat kita bukan hanya mengkonsumsi secara lisan saja tapi juga mulai menariknya ke dunia nyata

Warung-warung makanan ala Jepang bermunculan, grup idol ala Jepang juga ada, pembuat kostum dan busana ala Jepang tak mau kalah mulai bermunculan di sekitar kita

poster acara Kaizen kemarin



Sementara kalangan tua masih menganggap Jepang adalah penjajah Indonesia yang tak sedikit memakan jutaan jiwa dan darah dimasa kemerdekaan, para kaum muda lebih bisa menerima kebudayaan Jepang

Mungkin sekarang 2 hal ini masih terlihat kontras, tak jarang saya melihat komentar diskusi forum antara pro dan kontra tentang serbuan budaya Jepang

Tapi semakin menyusutnya populasi kalangan tua kita dan mulai berganti dengan kaum remaja, saya yakin beberapa tahun kedepan adalah wajar menemukan warung sushi kaki-lima buka dipinggir jalan

Pertanyaanya tentu; Apakah ini buruk? Apakah serbuan budaya luar ini akan menenggelamkan citra bangsa asli kita?

Perlu diketahui masyarakat kita sendiri sudah ratusan tahun menyerap budaya asing, India, China, Timur Tengah, Amerika

Dan sejauh ini tidak ada yang memprotes bahwa budaya kita luntur tersapu oleh budaya-budaya baru tersebut

Secara jujur kita harus mengakui bahwa asimilasi atau pencampuran budaya akan terjadi dimasa depan tanpa bisa dihentikan

Ambil yang baik, buang yang buruk!


Yang begitu terasa sekarang tentunya aspek ekonomi bisa sedikit terbantu dengan serbuan budaya ini, penjualan makanan khas Jepang atau Korea, baju atau pernak pernik Korea, festival-festival berbau Jepang

Semua ini dengan cerdik ditangkap oleh pemuda dan pemudi kita untuk dijadikan lahan bisnis baru, ratusan atau ribuan tenaga kerja terpakai, milyaran uang turut berputar

Dan ini semua dikelola oleh rakyat Indonesia bukan warga Jepang

Singkat kata saya baru melihat ini semua dari sisi positifnya, semoga tidak terjadi hal-hal negatif akibat kebanyakan menonton kartun

Salah satu kelihaian para wirausaha muda kita bisa dilihat dari penyelenggaraan Kaizen No Matsuri 2015 SMA 5 Solo kemarin

Acara ini termasuk festival ala budaya Jepang terbesar di Solo

Sejarah Kaizen no Matsuri

Ribuan orang membludak memenuhi area festival, warung makanan jepang, pengusaha merchandise, turut membuka usahanya disini

Berapa tepatnya uang berputar disini saya kurang tahu, saya kira sedikitnya puluhan atau ratusan juta berputar disini

Berpindah dari pembeli ke penjual, dari penjual ke pedagang, dari pedagang ke produsen/petani lokal

Mari kita lihat kemeriahan Kaizen No Matsuri 2015 ini


  
lokasi di Sma 5 Solo 
Jl. Letjen Sutoyo 18 Surakarta
 
tiket masuk 15 ribu saja

dapat bonus voucher diskon di Popipop Solo

begitu masuk langsung disambut meriahnya stand dan penonton yg ribuan jumlahnya

cosplayer-cosplayer

walaupun lapangan becek sehabis hujan
tak menyurutkan animo warga solo

para cosplayer pun dengan senang hati diajak berfoto

ada panggung untuk kesenian Jepang

salut atas cosplayer yang total dalam performnya
jubah tertutup  full ini pasti panas sekali dipakai di iklim tropis

dari info yang saya dapatkan, para cosplayer datang dari seluruh Solo
bukan hanya murid SMA 5
dan saya masih penasaran sistem cosplayer ini, apakah diundang khusus oleh panitia (dg bayaran) untuk meramaikan acara
atau mereka dengan sukarela datang dan rela berkeringat untuk diajak foto-foto para warga solo

nah ini cosplayer idola para lelaki he3x

  
kawaii

ada stand khusus untuk berfoto dengan senjata-senjata khas anime/manga

stand yang paling banyak, stand makanan khas Jepang
ada takoyaki, ramen, okonomiyaki, dan bla...bla....bla....
saya gak mudeng ahhaha

panitia menyediakan meja catur Jepang IGO
disertai mbak-mbak untuk menemani dan menjelaskan permainan IGO pada pengunjung
walaupun mas yg saya foto nampaknya lebih ahli hi3x

semua stand sibuk melayani permintaan pembeli

stand pernak-pernik manga

baju-baju bertema manga/anime
dari yang saya lihat semua diproduksi oleh lokal

setelah setengah jam berputar-putar dan melihat ramainya acara
saya baru sadar dari  ribuan pengunjung mayoritas anak muda semua
selain pedagang stand cuma saya yang sudah terlalu dewasa 
besar, berjenggot, foto-foto, senyam senyum sendiri kalau lihat cosplayer2 muda
pulang saja ahhhh...nanti dikira saya penyuka anak-anak
wkkwwkwkwk

lomba motor hias bertema anime/ manga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...