Senin, 30 Juni 2014

Berburu Tanaman Liar



Manusia

Manusia sebelum ada pasar, supermarket, atau pertanian modern, mengumpulkan tanaman liar untuk dimakan.

Manusia jaman dulu total menggantungkan hidup kepada alam.

Tapi bagaimana manusia bisa memilah tanaman yang bisa dimakan dari ribuan jenis tanaman di alam?

Tanpa bantuan google atau buku petunjuk sebenarnya tubuh kita bisa mengenali sumber pangan mana yang bisa dimakan, senjata utamanya adalah lidah dan naluri kita

Indera pengecap berperan besar dalam membantu kita untuk memilih tanaman yang aman dikonsumsi

Manis dan pahitlah rasa yang sering dijadikan patokan indera pengecap kita untuk memutuskan mana yang bisa dimakan mana yang tidak bisa dimakan

Rasa manis mewakili sumber pangan yang kaya akan energi atau karbohidrat, tubuh kita secara naluri menyukai makanan manis sebagai sumber kabohidrat yang paling cepat dirubah menjadi energi.

Itulah kenapa kita sering tidak bisa mengontrol nafsu kita terhadap makanan manis meskipun perut sudah penuh terisi.

Karena otak -sebagai metode pertahanan diri- akan mencoba menimbun karbohidrat sebanyak-banyaknya untuk cadangan energi ketika terjadi krisis kekurangan makanan.

Rasa pahit mewakili toksin atau racun yang terkandung dalam tanaman, rasa pahit di lidah adalah peringatan awal bahwa ada racun yang terkandung dalam makanan kita

Walaupun begitu ada beberapa kasus makanan yang pahit justru memiliki kandungan berguna bagi tubuh kita

Daun pepaya misalnya, dibalik rasa pahitnya kandungan getah putih pada daun pepaya adalah sumber antikanker yang berharga bagi tubuh.

Tapi bahkan untuk kasus ambigu seperti itu manusia masih mampu mengatasinya, manusia masih mempunyai kekutan ingatan yaitu pengetahuan turun-temurun tentang sumber pangan yang mana saja berguna bagi tubuh atau sebaliknya (bahasa populernya 'kearifan lokal')

Manusia belajar untuk mengenal, belajar untuk mengolah bahan pangan, dan meneruskan informasinya ke generasi berikutnya

Sementara naluri kita bekerja melalui sistem jijik, atau rasa jijik.

Naluri jijik ini adalah pertahanan tubuh terhadap zat-zat yang akan masuk ke tubuh.

Rasa jijik terhadap bangkai, daging busuk, kotoran/feses mencegah kita untuk tidak memasukkan sumber pangan yang mengandung bakteri atau zat berbahaya tersebut kedalam tubuh.


Bertolak dari itu saya mencoba untuk menelusuri kembali apa yang telah lama kita tinggalkan.

Mencoba untuk belajar lagi pengetahuan yang diwariskan dari nenek moyang kita, pengetahuan yang berabad-abad dipakai untuk bertahan hidup di alam.

Yaitu berburu tanaman pangan liar

Belajar kembali tanaman apa saja yang bisa dimakan tentu bukan perkara mudah, apalagi di jaman industri ini dimana sumber pangan bisa dengan mudah didapat di swalayan atau pasar.


Beras, mie instan, saos tomat, semua tinggal ambil dari rak swalayan

Tanpa perlu tahu bagaimana bentuk batang padi, bagaimana bentuk daun gandum, atau seberapa tinggi tanaman tomat bisa tumbuh


Untuk itu saya sangat membutuhkan pembimbing yang ahli soal bahan tanaman, seseorang yang mempunyai katalog besar tentang tanaman pangan dihidupnya

Siapa lagi kalau bukan nenek saya, dengan puluhan tahun pengalaman tentang makanan yang beliau punya maka nenek saya adalah sumber informasi yang paling berharga untuk mengenali jenis-jenis tanaman pangan yang aman dimakan.

Jadi rencana saya begini, saya googling dulu tanaman apa didaerah saya (solo, dataran rendah) yang dapat tumbuh dan bisa dimakan.

Lalu saya tanam dikepala saya gambar daun, ranting, atau bunga yang telah saya dapatkan di google.

Setiap sore ketika saya gowes akan saya amati kebun-kebun kosong, halaman rumah, dan sawah yang saya lalui.

Jika ada satu tanaman yang cocok akan saya ambil sedikit daunnya, saya cocokan lagi dengan gambar dari internet di rumah dan terakhir saya minta persetujuan dari nenek saya.

Apakah benar jenis tanaman ini bisa kita konsumsi?

Jika sudah lulus melalui itu semua, tanaman itu akan saya ambil dan pindahkan ke kebun untuk koleksi he3x

Bahan; "Omnivore Dillema" Michael Pollan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...