Sabtu, 18 Januari 2014

Raised Bed Project I

Mohon maaf kalau saya berhibernasi lama sekali

Berbulan-bulan berhenti update blog bukan karena saya malas menulis atau sudah tidak ada hasrat lagi, tapi karena waktu dan raga tercurahkan untuk project saya setelah vertikultur PVC.

Seperti yg anda tahu project vertikultur saya lumayan sukses, saya katakan 'lumayan sukses' karena cara bertanam ini berjalan lancar tapi masih ada satu kekurangan.

Cara bertanam ini masih memerlukan tenaga manusia yang cukup besar dalam perawatannya, yaitu penyiramnya yg masih manual dan penggantian tanah tiap panen selesai.

Untuk itu saya mulai berpikir, tanah kosong sisa harus bisa memproduksi pangan dengan minim perawatan tapi dengan hasil yang tidak kalah banyak.

Mulailah saya riset, cara apa yg paling cocok. Buka-buka file akhirnya ketemu dengan sistem pertanian alami milik Masanobu Fukuoka dan Permaculture yg hampir sama sistemnya. Tidak lupa metode peternakan Joel Salatin yang hemat tenaga dan biaya.

Tapi ketiga cara tadi menurut saya membutuhkan lahan yg lumayan luas agar sistem dapat berjalan.

Untuk itu saya memutuskan untuk mengambil bagian-bagian yang dirasa berguna dan menerapkannya sesuai dengan keadaan alam di tanah saya.

Luas lahan tentu menjadi kendala utama, sisa lahan saya setelah dikurangi kolam lele dan vertilkultur PVc hanyalah kurang lebih 100m2.

Di 100m2 ini saya harus bisa menghasilkan secara mandiri kaborhidrat, nutrisi, dan tentu protein (daging).

Kolam lele tidak saya masukkan sebagai pemenuhan protein secara mandiri karena kolam lele saya maksimalkan untuk profit atau hanya saya ambil bentuk 'uang' sebagai hasil akhirnya.

Berikut sedikit pembahasan poin2 yg saya sesuaikan di kebun saya

Pertanian Alami Masanobu Fukuoka
Banyak sekali teknik Masanobu Fukuoka yg sesuai dengan misi saya
-Tanpa Pembajakan
-Tanpa Pupuk
-Tanpa Penyiangan rumput
-Tanpa Pestisida
Itu semua saya ambil dan akan saya tanamkan di kebun saya

Permaculture
Permaculture mengajarkan kita untuk menanam tanaman yang awet, bisa dipanen terus menerus, tanpa penggantian tanaman setiap selesai panen.

Istilah bulenya disebut Perennial plant, tanaman yg termasuk kategori ini di Indonesia adalah Singkong, Pepaya, Katuk, Kemangi, dll. Semua tanaman yg saya sebutkan tadi bisa dipanen dalam jangka waktu tahunan, hemat tenaga dan hemat waktu.


Tentu saya membutuhkan juga sumber karbohidrat dan vitamin yg bukan termasuk perennial plant, maka dipilihlah Jagung manis, Sawi, Cabai, dan tanaman lain yg cocok dengan kondisi lingkungan.

Kondisi Tanah
Kualitas tanah dikebun saya buruk sekali, banyak batu dan sedikit tanah asli. Itu karena tanah disini tanah urukan, tanah yg diambil dari tempat lain untuk menutup tanah asli yang lebih rendah dari jalan

Karena tanah disini rendah, ketika banjir maka air akan menggenang untuk itu saya harus membangun raised bed sebagai penampung tanah kualitas terbaik agar tanaman-tanaman saya bisa tumbuh maksimal dan tidak hanyut terkena banjir.

Konsep awal kebun yang saya tuangkan ke dalam gambar;


berikut sedikit keterangan
  • Raised Bed untuk sayur, cabai, dan jagung
  • Sisi diluar raised bed untuk Perennial plant, seperti singkong, pepaya, katuk, dll
  • Di tengah ada kandang kelinci dengan jalur hijau sebagi rumput untuk sumber makanan kelinci. Di tembok tergantung kandang kelinci

Seperti yg bisa anda lihat, porsi raised bed untuk tanaman musiman lebih besar dibandingkan lahan untuk Perennial Plant. Itu karena saya pribadi lebih sedikit mengkonsumsi tanaman Perennial Plant.

Itulah sedikit coretan saya tentang apa yg saya research selama masa hibernasi saya
Maaf jika belepotan, maklum sudah lama gak nyentuh keyboard he3x

Untuk metode beternak kelinci ala Joel Salatin akan saya sambung dibeda tulisan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...