Senin, 18 Juni 2018

Laku "Rasa" Lampah Gajahan Solo

Setahun yang lalu saya mengikuti kegiatan Laku Lampah ke permukiman warga keturunan Arab daerah Pasar Kliwon Solo

Jelajah Jazirah Arab Pasar Kliwon Solo bersama Laku Lampah

Laku lampah sendiri adalah komunitas sejarah yang mengajak warga untuk menelusuri sejarah kota Solo

Mereka memiliki misi untuk mengedukasi warga Solo mengenai kearifan lokal suatu wilayah atau kampung

Jika anda tertarik silahkan pantau IG resmi Laku Lampah, mereka mengupdate jadwal kegiatannya di akun tersebut

Kali ini kita akan mengikuti Laku Rasa di Gajahan Solo, kenapa dinamakan Laku Rasa?

 

Karena nanti peserta selain diajak melihat peninggalan sejarah di kampung Gajahan juga akan diajak "me-Rasa-kan" suasana kampung Gajahan 1900an ketika masih diperintah oleh Pakubowono X

Para peserta akan disuguhi bangunan, cerita, dan makanan khas Solo waktu itu

Menarik sekali!

Melihat pemberitahuan di IG Laku Lampah, saya tanpa pikir panjang langsung memesan tempat untuk mengikuti acara keren ini

aksi teatrikal Ngemisan di Dalem Jayakusuman
subscribe kami di Youtube
Mewalik Jaya

Oh iya, Laku Lampah biasanya tidak mematok biaya khusus untuk acaranya (donasi sukarela)

Tapi karena Laku Rasa Gajahan ini nampaknya menyuguhkan suatu pertunjukan dan kuliner khusus, maka peserta yang ingin mengikuti dikenakan donasi sebesar Rp75.000,00

Tanpa basa-basi langsung saja kita lihat acara Laku Rasa Gajahan, ada 45 foto yang sudah saya kompres dan satu video (diatas) berdurasi 60 detik



Jadi persiapkan waktu dan bandwith internet anda untuk melihat sejarah kampung Gajahan bersama Laku Lampah

Nb; jika ada kesalahan saya dalam menyebut nama atau lokasi bersejarah, mohon koreksinya

acara dimulai jam 2 siang, para peserta berkumpul didepan kelurahan Gajahan
karena kali ini kita akan blusukan kedalam rumah-rumah kuno maka panitia menyarankan untuk peserta memakai alas kaki yg nyaman, peneduh kepala, dan lotion anti nyamuk
air minum disediakan oleh panitia Laku Lampah

nama kampung Gajahan diambil karena dulu tempat ini adalah lokasi pemeliharaan Gajah dari Keraton Kasunanan Surakarta
sebelum ada kendaraan berat seperti tank atau APC, kerajaan jaman dahulu memakai Gajah sebagai salah satu kendaraan perangnya
ukuran Gajah yang besar dan berat memudahkan pasukan untuk mendobrak pertahanan musuh
namun karena perkembangan teknologi dan senjata, maka pasukan gajah mulai ditinggalkan
(Gajah butuh perawatan tiap hari dan mudah dijadikan sasaran tembak oleh artileri musuh)

sisa-sisa kejayaan pasukan Gajah bisa kita lihat dengan banyaknya patung Gajah di sudut-sudut kampung ini

lokasi pertama kami berhenti, depan SMP Kristen Kalam Kudus
disinilah dulu markas Prajurit Patangpuluhan
pasukan elit keraton Kasunanan Surakarta

SMP Kalam Kudus yang luas dan megah ini diperkirakan dulunya salah satu nDalem
nDalem adalah sebutan untuk rumah anak raja, biasanya luas dan bangunannya megah

peserta melanjutkan ke lokasi berikutnya dengan berjalan kaki
seperti yang anda lihat, siang itu Solo habis diguyur hujan jadi kami tidak kepanasan
benar-benar hari yang beruntung
oh iya, selama acara jalan-jalan akan ada petugas keamanan dari kelurahan dan beberapa panitia yang mengikuti
jadi jangan khawatir anda terpisah, tersesat, atau jika tidak kuat dan kecapekan tinggal memanggil salah satu panitia 

lokasi selanjutnya adalah Gemblegan
Gemblegan adalah salah satu wilayah perekonomian yang ramai di Solo
banyak toko-toko dan rumah besar dipinggir jalan
Gemblegan diambil nama dari Tukang Gemblak, atau profesi abdi dalem yang bertugas membuat bokor dari kuningan
karena sejak dahulu sarat akan kegiatan perekonomian, maka sampai sekarang Gemblegan pun masih menjadi lokasi jual-beli yang ramai di Solo
disini juga lokasi pertama Terminal Solo sebelum pindah ke Terminal Tirtonadi, anda masih bisa melihat sisa-sisanya dengan beberapa penjual tiket bis yang ada di Gemblegan

salah satu rumah pertama yang berdiri di Gemblegan

masih di Gemblegan, kami berkunjung ke salah satu rumah kuno yang terletak dipinggir jalan

disini kami bertemu dan mendengar cerita dari keturunan kesekian dari pemilik rumah
dulu pemilik rumah ini adalah saudagar besar batik Solo, dan dijaman kemerdekaan rumah ini sering dijadikan lokasi rapat para pemuda-pemuda pergerakan
sungguh pengalaman yang tak ternilai bagi saya bisa mendengar dan melihat langsung lokasi bersejarah seperti ini

kami berjalan lagi ketimur, kearah alun-alun kidul Keraton Kasunanan
tampak difoto adalah deretan pertokoan Gemblegan
sebelah selatan Gemblegan adalah Kampung Danukusuman, kampung tersebut tempat lahirnya Slamet Riyadi pahlawan nasional Indonesia
Brigadir Jenderal TNI Slamet Riyadi adalah pahlawan dijaman kemerdekaan Indonesia, namanya sekarang diabadikan menjadi jalan raya utama di Solo

sekarang kita sampai di Gapura Gading
Gapura ini terdapat di sisi selatan Alun-Alun Selatan, diresmikan tahun 1983 dan digunakan pertama juga terakhir kali oleh Pakubowono X tahun 1939 saat beliau wafat
ada semacam peraturan tidak tertulis dalam keraton, bahwa seorang Raja tidak boleh melewati sisi selatan Istana kecuali dia wafat
sayangnya Gapura Gading ini kondisinya tidak utuh lagi, mahkota utamanya sudah rusak entah kena apa
jika anda ingin melihat bentuk utuh gapura Gading bisa melihat difoto saya sebelumnya



foto gapura sisi barat Alun-alun Lor
memang ada tiga gapura di keraton Kasunanan, gapura disisi selatan Alun-alun Kidul (alun-alun selatan), sisi barat, dan sisi timur Alun-Alun Lor (alun-alun utara) 
tiga Gapura ini dinamakan Tri Gapurendra (Tiga Gapura Raja)
keren kan namanya? saya yang lahir dan hidup di Solo saja baru dengar kali ini ha3x

atau melihat Gapura Mahkota Solo yang dibangun ulang disisi barat kota Solo sebagai tugu selamat datang
seperti inilah bentuk utuh mahkota yang dulu ada diatas Gapura Gading

melewati Alun-alun Kidul
lapangan luas milik keraton ini dulu identik dengan tempat prostitusi liar
tapi sekarang sudah mulai ditertibkan dan sering menjadi lokasi Maleman atau Pasar Malam untuk wisata keluarga
jika siang-sore hari banyak warga Solo yang sekedar beristirahat disini, penjual makanan pun banyak yang menggelar dagangan disini
dipojok Alun-alun Kidul terdapat lokasi pemeliharaan kerbau albino pusaka keraton, kerbau Kanjeng Kyai Slamet

sekarang kami masuk ke area nDalem Kusumabratan
ini adalah kediaman dari putra Pakubowono X bernama KGHP Kusumabrata
sayangnya lokasi ini sudah tidak terawat, rumornya akan dirubuhkan dan dibangun menjadi Hotel
hiks3x

sisa lantai dari pendopo nDalem Kusumabratan
karena nDalem ini terletak menghadap Alun-alun
dulu Pakubowono X sering datang kesini dan melihat para prajurit keraton yang berlatih di Alun-alun Kidul

praktis tidak ada yang bisa kami abadikan dilokasi ini
hanya puing-puing bekas bangunan kuno, yang mungkin menarik untuk lokasi acara bertema mistis

salah satu bangunan yang masih berdiri (walau dalamnya juga sudah tidak bisa dipakai)
Mushola ini dulu sering dipakai Pakubowono X menunaikan ibadah shalat

melihat sisa-sisa bangunan dalam mushola
tampaknya ini adalah wadah untuk berwudhu

cukup lama kami disini, berkeliling area nDalem 
peserta Laku Lampah mengambil foto-foto dan beristirahat sebentar

tujuan terakhir kami adalah nDalem Jayakusuman
kontras dengan lokasi sebelumnya, nDalem Jayakusuman sudah dipugar dan dijadikan cagar budaya

bangunannya megah dan cantik sekali

pendopo dan taman yang dirawat apik
nDalem ini juga dijaga oleh beberapa petugas keamanan

sambil duduk lesehan kami mendengarkan penjelasan dari panitia Laku Lampah

memasuki bagian dalam pendopo
ini adalah Krobongan, tempat tidur untuk malam pertama bagi pengantin keraton
ketika proses malam pertama, nanti ada emban (semacam pengasuh wanita, cmmiw) yang mengawasi dari luar menggunakan thintir (lampu memakai sumbu dan minyak) untuk memastikan malam pertama berjalan dengan baik
jika proses malam pertama lancar, maka mempelai akan kembali ke kamar dan krobongan ditutup kembali
disamping krobongan ini ada 2 kamar yang mengapit, senthong kiwa (kiwa=kiri) dan senthong tengen (tengen=kanan)

bangunan disini terlihat baru dan terawat karena memang baru saja selesai direnovasi oleh pemkot
keterangan dari panitia Laku Lampah untuk renovasinya menghabiskan biaya yang tidak sedikit

nanti rencananya nDalem ini akan dibuka untuk umum 
jadi warga Solo bisa menikmati dan belajar sejarah disini

okeee.....selesai melihat pendopo nDalem Jayakusuman kami diajak berkumpul dan menuju halaman belakang nDalem

ternyata ini adalah acara utama Laku Lampah hari ini
Laku Rasa

kami disambut oleh rumah-rumah kuno dan warga yang berdandan seperti jaman kerajaan
para warga berbahasa jawa halus dan melakukan kegiatan sehari-hari
seperti menyapu, memindahkan barang, dan bercengkrama antar warga

ada juga warga yang berlatih gamelan dan tari
kami peserta laku lampah hanya bisa kaget dan melongo
ruang dan waktu seperti diputar kembali ke tahun 1900an

bahkan ada juga Pakubuwono X lengkap dengan prajuritnya, komplit!
kereeeennnnn!!!
jadi ini semua sebetulnya kerjasama dari Laku Lampah dan Record Budaya
salah satu sanggar anak muda yang sering menampilkan ketoprak di berbagai event Solo
anda bisa mengintip di IG resmi Record Budaya

dan kali ini Record Budaya akan mementaskan lakon Ngemisan
yaitu napak tilas kegiatan Pakubuwono X yang setiap hari kamis sore sering membagikan sedekah ke warganya
peserta Laku Lampah disini juga kebagian peran lo... sebagai warga yang ikut antri sedekah ha3x
dari kegiatan Pakubowono X setiap hari Kamis ini munculah kata Ngemis atau Pengemis
suatu kata yang sedikit bermakna negatif, orang peminta-minta
padahal dulunya adalah kegiatan para warga untuk mengharapkan berkah dari Rajanya

dalam sejarah, yang dibagikan Pakubowono X setiap kamis adalah uang kepeng
tapi kali ini dimodif menjadi kudapan dan makanan kuno Solo
yang dipilih juga tidak sembarang makanan, makanan yang disajikan ini semuanya makanan jawa yang disebutkan dalam Serat Centhini
Serat Centhini sendiri adalah karya Sastra dijaman kerajaan Mangkunegaran, yang menghimpun berbagai pengetahuan dan kebudayaan Jawa agar tidak punah 

misalnya ketan biru
ketan dalam bahasa Jawa bermakna 'kraketan' atau 'ngraketke ikatan', yang artinya merekatkan ikatan persaudaraaan
sementara warna biru melambangkan alam dan angkasa, warna biru ini sering dipakai dalam corak karya Keraton Kasunanan Surakarta

gandos rangin (putih), walangan(bulat coklat), dan cara bikang (hijau muda)
semua makanan ini sudah ada sejak 1800an dan sekarang masih bisa kita jumpai di pasar tradisional

minumnya adalah sirup buah kawista 
buah yang masih satu kerabat dengan buah maja, pohonnya sudah jarang kita temui lagi

makanan utamanya adalah bancakan
yang ditata dan disajikan ala jawa kuno
rasanya kami jadi seperti tamu keraton saja ha3x

bancakan adalah hidangan wajib orang Jawa setiap ada kenduri atau selamatan
saya sendiri masih ingat ketika kecil dulu pernah dirayakan ulang tahun dengan membuat bancakan he3x
Ubarampe yang digunakan dalam bancakan adalah;
7 macam sayuran, 7 (pitu) dalam jawa adalah simbol Pitulungan (pertolongan) Tuhan
kacang panjang dan kangkung wajib ada tanpa dipotong, melambangkan panjang rejeki dan panjang umur
sementara telur melambangkan asal muasal makhluk ciptaan Tuhan, diharapkan kita selalu ingat akan Sang pencipta
gudangan atau bumbu urap, jika bancakan untuk anak usia 8th keatas maka dibuat dengan rasa pedas
harapannya dalam usia tersebut sudah mulai merasakan pahit, manis, pedasnya suatu kehidupan
pisang, buah yang bisa ditanam dimana saja dan rajin berbuah
agar kita bisa belajar pantang menyerah menjalani kehidupan

buanyakkkk....kan lambang dalam satu mangkok daun kecil bancakan ini? 
sekarang anda tahu kenapa orang jawa susah ditebak, setiap berkata selalu memiliki arti lain, beda seperti orang batak yang tegas misalnya

karena ini adalah rangkaian acara terakhir jadi kami menikmati makanan sambil bercengkerama antar peserta

sekalian foto-foto dengan anggota Record Budaya

diakhir acara, mas Fendy selaku ketua Laku Lampah 
memberi penjelasan arti diadakannya Laku Rasa sore ini

saya juga tidak mau ketinggalan ikut mengabadikan foto
untuk kenang-kenangan
(makasih mbak Yenny atas fotonya!)

karena matahari hampir tenggelam acara pun selesai
dan kami bisa pulang kerumah masing-masing
hari ini benar-benar pengalaman yang luar biasa dan tak terlupakan bagi saya
terimakasih Laku Lampah dan Record Budaya!
telah menyajikan sejarah dengan cara yang menghibur, semoga sukses terus kedepannya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...