Minggu, 12 November 2017

Jalan-Jalan ke Kebun Organik St. Pignatelli

Seri berkunjung ke kebun
Jalan-jalan ke Kebun Cabai Hias Bapak Shemmy
Berkunjung ke Farm Sebelah: Kebun Adi Wibowo
(Berkunjung ke Farm Sebelah) Cat Village Urban Farming
Jalan-jalan ke Kebun Ibu Olive
Berkunjung ke Farm Lele Sebelah

Seperti yang sering kita baca di media luar maupun dalam negeri, pangan adalah masalah yang harus kita hadapi di masa depan

Panglima TNI Perkirakan Akan Ada Perang Pangan dan Energi
Jokowi: Pangan Bisa Menjadi 'Panglima' di Masa Depan

Pangan dan Energi tepatnya, Energi karena semakin menipisnya sumber daya alam yang sudah bertahun-tahun dikeruk dari perut bumi

Sementara pangan yang produksinya sekarang sangat bergantung kepada Energi untuk pupuk, transportasi, mesin pengolah, dll otomatis ikut terancam dengan semakin langkanya energi

Beberapa negara besar sudah mulai beralih ke energi yang terbarukan, tapi ini juga masih teknologi yang mahal untuk perorangan

Kenapa sekelas Jenderal dan Presiden berbicara masalah kelangkaan pangan?

Karena produksi pangan dalam suatu negara adalah hal yang sangat vital, mari kita runut dari awal sekali....

Manusia mencari makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, kita membutuhkan kalori dari berbagai sumber

Pada awalnya orang-orang di dunia memperoleh pangan dengan berburu dan mengumpulkan dari alam

Tapi jangan dibayangkan kehidupan dahulu selalu keras atau rawan kelaparan

Kenyataannya dengan berburu manusia jaman dahulu bisa menyimpan tenaga dan waktu sisa untuk kesibukan lain, tanpa menghabiskan harinya bekerja mengolah tanah, menjaga ladang, memproses hasil panen, dll

Transisi dari pemburu menjadi petani tidak berlangsung dalam sekejap, manusia jaman dahulu tidak bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk bekerja sehari penuh mengolah tanah dan menanaminya dengan sayur agar 1-3bulan lagi bisa panen

Lebih masuk akal dijaman itu untuk berburu hewan atau mengumpulkan sayur, jamur, umbi dari hutan agar keluarga dan suku mereka bisa makan hari itu juga

Lalu kenapa masyarakat terdahulu memutuskan untuk beralih dari berburu menjadi beternak atau pertani

Kita akan melihat salah satu contoh;

Di Papua misalnya, tumbuhan asli papua sebagai sumber karbohidrat utama adalah talas, tanaman ini kaya akan karbohidrat tapi memiliki sedikit kalori
(yang sekarang malah bagus untuk diet pengganti nasi )

Ketika Ubi Jalar yang tumbuhan asli Amerika Selatan masuk ke dataran Papua (mungkin lewat Filipina dibawa oleh Spanyol) maka penduduk Papua segera membudidayakannya

Ubi jalar tumbuh lebih cepat, mudah diperbanyak dengan stek batang, bisa hidup didataran tinggi, dan lebih banyak hasil yang bisa dipanen daripada talas, maka stok pangan melimpah dan ledakan populasi terjadi


Ketika populasi semakin padat dan sumber pangan dari alam mulai menipis, mau tak mau suatu masyarakat harus bisa memproduksi pangan secara mandiri dengan bertani atau berternak

Lalu apa yang terjadi ketika suatu masyarakat sudah mampu memproduksi pangan dalam jumlah besar untuk menyokong populasi yang padat?

Begitu suatu masyarakat melebihi 10.000 orang, mustahil mencapai, mengelola, dan melaksanakan suatu keputusan bersama dengan mengumpulkan tiap warga, dimana setiap orang menyampaikan pikirannya masing-masing


Harus ada pejabat yang mengatur dalam suatu masyarakat agar tidak timbul perselisihan, pertengkaran, atau saling membunuh dalam suatu kelompok masyarakat tersebut

Harus ada pemimpin yang mengambil keputusan, eksekutif yang melaksanakan, dan birokrasi yang mengelola keputusan dan hukum

Para pejabat ini hidup disokong dari sisa hasil produksi pangan para petani (kita sebut "Pajak"), mereka mengabdikan seluruh waktunya untuk melayani masyarakat tanpa bisa lagi bekerja diladang atau peternakan

Negara tidak bisa ada sebelum adanya produksi makanan dan negara belum ada sebelum produksi makanan telah mampu menyokong populasi yang besar dan padat

Jika dalam masa depan suatu negara sudah tidak mampu memproduksi pangannya secara mandiri, bisa dipastikan akan timbul goncangan ekonomi, kerusuhan, bahkan mungkin juga hancurnya suatu negara

Kerusuhan akibat harga pangan di Aljazair
Ekonomi Jatuh, Hampir 90 Persen Warga Venezuela Tak Mampu Beli Bahan Pangan
Kepergok Curi Cabai, Dua Pemuda Asal Jember Dihakimi Massa

Sekilas penjelasan diatas menunjukan betapa pentingnya kemandirian produksi pangan disuatu negara termasuk Indonesia

Isu ini belum begitu disadari oleh generasi muda, tapi beberapa orang dan institusi sudah mulai bergerak untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya produksi pangan lokal

Salah satunya adalah ABA St Pignatelli, akademi yang mengajarkan bahasa asing ini dalam beberapa tahun terakhir mulai melebarkan sayapnya dalam bidang agrikultur

Mereka membuat CCTC atau Coffe and Cocoa Training Centre yang bertujuan memasarkan kopi dan coklat petani lokal agar mampu bersaing didalam negeri (besok akan saya ulas CCTC ini)

Dan akademi ini juga sudah membuat kebun sayur organik yang memproduksi berbagai sayur untuk dijual ke masyarakat umum

Mari kita lihat kebun organik ABA St Pignatelli tersebut

lokasinya dibelakang kampus Pignatelli
Jl Duwet Karangasem Laweyan Surakarta
atau anda bisa mencarinya di google map


bersama mas Advent mahasiswa Pignatelli yang mengurus kebun organik
kebunnya luas juga, mungkin ada 400 meter persegi
karena saya datang saat musim kemarau, tanaman sayur tidak begitu banyak

ditanami berbagai sayur yang bisa dikonsumsi
seperti bayam merah ini

hamparan selada kriting siap panen

tomat yang ditanam berdampingan dengan bayam hijau

bagusnya kebun disini tidak ditanam satu jenis sayur saja
tapi ditanam berselang seling, seperti foto sebelumnya
bayam merah, sawi, bayam hijau, tomat, ditanam berdampingan
ada juga space khusus untuk ditanam kemangi dan beberapa bunga


dengan cara menanam seperti itu maka akan meminimalisir hama yang menyerang tanaman dan mencegah kegagalan panen dalam jumlah besar
(jika semua lahan ditanam tomat, dan ada penyakit tomat menyerang, 
maka satu lahan akan gagal panen)
beberapa tanaman disini juga ditanam bertujuan untuk mengusir hama

sementara disekeliling kebun sayur ditanami pisang
sebagai peneduh agar tidak terlalu panas

pupuk yang digunakan adalah pupuk cair seperti ini
dibuat sendiri dari fermentasi air kolam dan MOL

tumpukan sampah organik yang akan dijadikan kompos

sisa batang sayur yang habis dipanen pun tidak dibuang
tapi dijadikan kompos lagi

daun-daun kering sumber kompos melimpah disini
karena area kampus Pignatelli banyak sekali pohon peneduh 

selain membuat pupuk cair sendiri, membuat kompos sendiri, disini juga memproduksi benih sendiri!
ini adalah bunga bayam merah yang dikeringkan dan siap dipanen bijinya

ini adalah salah satu kebun organik paling mandiri yang pernah saya lihat di solo!
keren! top!!

salah satu kendalanya hanya penyiraman yang masih manual
karena jauh dari sumur maka ketika musim kering datang maka mas Advent 
harus menampung air di bak dan menyiram sayur satu persatu

jika tiba saatnya panen maka sayur akan dipanen
dan dikumpulkan di penampungan sebelum dijual ke masyarakat umum

bahan; "Gun, Germ, and Stell" Jared Diamond

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...