Minggu, 26 November 2017

Membuat Gel Lidah Buaya

subscribe kami di Youtube
Mewalik Jaya

Aristoteles pernah menyarankan kepada Alexander Yang Agung untuk menyerang dan menguasai Pulau Socotra yang terletak di Laut Arab

Karena di pulau ini terdapat sumber obat yang sering digunakan di medan perang

Ya, aloe vera atau lidah buaya adalah tanaman yang banyak terdapat di pulau Socotra waktu itu

356-323 SM lidah buaya digunakan untuk mengobati luka prajurit di medan perang, bahkan Alexander Agung mempunyai kereta khusus untuk mengangkut lidah buaya segar dalam konvoi militernya

https://www.aloe-medical-group.com/en/aloe-vera/history.html



Lidah buaya kaya akan kalsium, zat besi, zinc, magnesium, tembaga, kalium, dan mangan yang bersifat anti-inflamasi dan antibakteri yang membantu detoksifikasi tubuh dan mendukung sistem kekebalan tubuh

Dalam keluarga saya sendiri, sejak dahulu lidah buaya digunakan untuk membantu penyembuhan jika kulit terluka

Lidah buaya membantu mengurangi rasa perih, lebih adem, dan yang istimewa menutup luka dikulit tanpa bekas

Selain itu sejak dahulu lidah buaya juga jamak digunakan untuk kecantikan, menyuburkan rambut, atau menghaluskan kulit wajah

Tanaman dari Afrika dan Timur Tengah ini mudah dikembang-biakan, sekarang kita bisa mendapatkannya dimana saja

Berbagai produk dari kecantikan terkini banyak yang mengandung lidah buaya, harganya pun tidak murah

Padahal tanaman ini bisa sering kita temukan dikebun maupun halaman rumah tetangga

Kenapa tidak kita buat gel lidah buaya sendiri?

ambil lidah buaya dari kebun anda masing-masing
pilih tanaman yang sudah berusia 1-2 tahun
daunnya cukup besar untuk kita ambil dagingnya dan dijadikan gel

Minggu, 19 November 2017

Rumah Baca Teratai Sangkrah Solo


Kelurahan Sangkrah adalah salah satu kawasan di Solo yang mempunyai populasi warga terpadat

Lokasinya yang berdekatan dengan jantung ekonomi dan budaya (keraton) Solo membuatnya menjadi kawasan idola para pekerja untuk menetap

Rumah-rumah warga saling berhimpitan satu sama lain, gang-gang sempit, dan warung-warung kecil menghiasi sepanjang jalan kampung

Tingkat kepadatan penduduk yang tinggi ini juga menyebabkan tingginya masalah sosial, kekerasan, premasnisme, dan judi bukan hal yang asing lagi kita dengar

Kawasan ini juga menjadi salah satu inspirasi saya dalam membuat tulisan sebelumnya

Membuat Vertikultur PVC Bekas


Saya sering berkata kepada teman-teman agar menanam pangan sendiri, memproduksi pangan kita sendiri



Tapi sepertinya saya lupa, saya bisa berkata seperti itu karena saya beruntung masih mempunyai lahan kosong untuk ditanami bahan pangan

Saya baru sadar ketika berkunjung kerumah teman saya ditengah kota, ketika masuk gang demi gang saya melihat wajah Solo yang padat penduduk

Rumahnya sempit-sempit, bahkan halaman depan untuk parkir motor pun tak ada

Seketika timbul pertanyaan dari dalam diri "Mau menanam bahan pangan dimana kalau lahan saja tidak punya?"


Benar sekali, rumah teman saya tersebut berada di kawasan Kelurahan Sangkrah

Tapi beberapa pemuda Kelurahan Sangkrah tidak menyerah begitu saja, mereka ingin merubah kampung mereka menjadi lebih baik dan positif bagi perkembangan anak dan remaja penerus generasi selanjutnya

Adalah Rumah Baca Teratai Sangkrah, perpustakaan kampung yang dibangun bersama oleh pemuda dari kampung Dadapsari Sangkrah

Awalnya Rumah Baca ini memakai pos ronda sebagai lokasi, dan menyediakan buku yang bisa dibaca untuk umum

Semakin lama dan semakin berkembang, maka aneka kegiatan positif telah diselenggarakan disini



Seperti pelatihan membatik, mural kampung, edukasi kesehatan, workshop photography, dan berbagai kegiatan positif lainnya yang didokumentasikan dengan rapi dan bisa anda lihat di http://rumahbacasangkrah.com

Ketika Hari Literasi Dunia atau disebut juga Hari Buku Sedunia area Soloraya diadakan di Rumah Baca Sangkrah, saya berkesempatan berkunjung langsung kesana

Hari Literasi Dunia bertujuan untuk mempromosikan aksara sebagai alat untuk pemberdayaan individu, komunitas, atau masyarakat

Atau lebih singkatnya, untuk mengajak generasi muda agar lebih giat membaca

alamat Rumah Baca Sangkrah adalah 
Rt3/4 Sangkrah, Pasr Kliwon, Surakarta
atau lebih mudahnya terletak dibelakang Luwes Loji Wetan, 
anda tinggal masuk jalan belakang Luwes Loji Wetan
dan bertanya kepada warga sekitar lokasi Rumah Baca Sangkrah

Minggu, 12 November 2017

Jalan-Jalan ke Kebun Organik St. Pignatelli

Seri berkunjung ke kebun
Jalan-jalan ke Kebun Cabai Hias Bapak Shemmy
Berkunjung ke Farm Sebelah: Kebun Adi Wibowo
(Berkunjung ke Farm Sebelah) Cat Village Urban Farming
Jalan-jalan ke Kebun Ibu Olive
Berkunjung ke Farm Lele Sebelah

Seperti yang sering kita baca di media luar maupun dalam negeri, pangan adalah masalah yang harus kita hadapi di masa depan

Panglima TNI Perkirakan Akan Ada Perang Pangan dan Energi
Jokowi: Pangan Bisa Menjadi 'Panglima' di Masa Depan

Pangan dan Energi tepatnya, Energi karena semakin menipisnya sumber daya alam yang sudah bertahun-tahun dikeruk dari perut bumi

Sementara pangan yang produksinya sekarang sangat bergantung kepada Energi untuk pupuk, transportasi, mesin pengolah, dll otomatis ikut terancam dengan semakin langkanya energi

Beberapa negara besar sudah mulai beralih ke energi yang terbarukan, tapi ini juga masih teknologi yang mahal untuk perorangan

Kenapa sekelas Jenderal dan Presiden berbicara masalah kelangkaan pangan?

Karena produksi pangan dalam suatu negara adalah hal yang sangat vital, mari kita runut dari awal sekali....

Manusia mencari makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh, kita membutuhkan kalori dari berbagai sumber

Pada awalnya orang-orang di dunia memperoleh pangan dengan berburu dan mengumpulkan dari alam

Tapi jangan dibayangkan kehidupan dahulu selalu keras atau rawan kelaparan

Kenyataannya dengan berburu manusia jaman dahulu bisa menyimpan tenaga dan waktu sisa untuk kesibukan lain, tanpa menghabiskan harinya bekerja mengolah tanah, menjaga ladang, memproses hasil panen, dll

Transisi dari pemburu menjadi petani tidak berlangsung dalam sekejap, manusia jaman dahulu tidak bangun dari tidurnya dan memutuskan untuk bekerja sehari penuh mengolah tanah dan menanaminya dengan sayur agar 1-3bulan lagi bisa panen

Lebih masuk akal dijaman itu untuk berburu hewan atau mengumpulkan sayur, jamur, umbi dari hutan agar keluarga dan suku mereka bisa makan hari itu juga

Lalu kenapa masyarakat terdahulu memutuskan untuk beralih dari berburu menjadi beternak atau pertani

Kita akan melihat salah satu contoh;

Di Papua misalnya, tumbuhan asli papua sebagai sumber karbohidrat utama adalah talas, tanaman ini kaya akan karbohidrat tapi memiliki sedikit kalori
(yang sekarang malah bagus untuk diet pengganti nasi )

Ketika Ubi Jalar yang tumbuhan asli Amerika Selatan masuk ke dataran Papua (mungkin lewat Filipina dibawa oleh Spanyol) maka penduduk Papua segera membudidayakannya

Ubi jalar tumbuh lebih cepat, mudah diperbanyak dengan stek batang, bisa hidup didataran tinggi, dan lebih banyak hasil yang bisa dipanen daripada talas, maka stok pangan melimpah dan ledakan populasi terjadi


Ketika populasi semakin padat dan sumber pangan dari alam mulai menipis, mau tak mau suatu masyarakat harus bisa memproduksi pangan secara mandiri dengan bertani atau berternak

Lalu apa yang terjadi ketika suatu masyarakat sudah mampu memproduksi pangan dalam jumlah besar untuk menyokong populasi yang padat?

Begitu suatu masyarakat melebihi 10.000 orang, mustahil mencapai, mengelola, dan melaksanakan suatu keputusan bersama dengan mengumpulkan tiap warga, dimana setiap orang menyampaikan pikirannya masing-masing


Harus ada pejabat yang mengatur dalam suatu masyarakat agar tidak timbul perselisihan, pertengkaran, atau saling membunuh dalam suatu kelompok masyarakat tersebut

Harus ada pemimpin yang mengambil keputusan, eksekutif yang melaksanakan, dan birokrasi yang mengelola keputusan dan hukum

Para pejabat ini hidup disokong dari sisa hasil produksi pangan para petani (kita sebut "Pajak"), mereka mengabdikan seluruh waktunya untuk melayani masyarakat tanpa bisa lagi bekerja diladang atau peternakan

Negara tidak bisa ada sebelum adanya produksi makanan dan negara belum ada sebelum produksi makanan telah mampu menyokong populasi yang besar dan padat

Jika dalam masa depan suatu negara sudah tidak mampu memproduksi pangannya secara mandiri, bisa dipastikan akan timbul goncangan ekonomi, kerusuhan, bahkan mungkin juga hancurnya suatu negara

Kerusuhan akibat harga pangan di Aljazair
Ekonomi Jatuh, Hampir 90 Persen Warga Venezuela Tak Mampu Beli Bahan Pangan
Kepergok Curi Cabai, Dua Pemuda Asal Jember Dihakimi Massa

Sekilas penjelasan diatas menunjukan betapa pentingnya kemandirian produksi pangan disuatu negara termasuk Indonesia

Isu ini belum begitu disadari oleh generasi muda, tapi beberapa orang dan institusi sudah mulai bergerak untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya produksi pangan lokal

Salah satunya adalah ABA St Pignatelli, akademi yang mengajarkan bahasa asing ini dalam beberapa tahun terakhir mulai melebarkan sayapnya dalam bidang agrikultur

Mereka membuat CCTC atau Coffe and Cocoa Training Centre yang bertujuan memasarkan kopi dan coklat petani lokal agar mampu bersaing didalam negeri (besok akan saya ulas CCTC ini)

Dan akademi ini juga sudah membuat kebun sayur organik yang memproduksi berbagai sayur untuk dijual ke masyarakat umum

Mari kita lihat kebun organik ABA St Pignatelli tersebut

lokasinya dibelakang kampus Pignatelli
Jl Duwet Karangasem Laweyan Surakarta
atau anda bisa mencarinya di google map

Kamis, 09 November 2017

Mencicipi Sate Kuda SoloBalapan

Sate...sate....sateee....

Siang ini kita akan makan sate, setuju? Setujuuuu dong!

Tapi bukan sate kambing atau ayam seperti biasa, kita akan mencicipi sate kuda ho3x

Di Solo ada warung yang menyediakan aneka olahan daging kuda

Lokasinya dekat Stasiun Solo Balapan, maka itu warung ini bernama Sate Kuda SoloBalapan



Katanya daging kuda mempunyai aneka manfaat, untuk asam urat, diabetes, kolesterol, dll

Seperti yang sudah saya tulis berkali-kali, saya sendiri tidak percaya satu makanan super penyembuh aneka ria macam penyakit

Saya pribadi menganut kepercayaan, supaya badan sehat kita harus makan seimbang, rutin olahraga, dan tidur yang cukup

Tapi godaan mencicipi sate daging kuda tidak bisa kita abaikan begitu saja, mari berangkat!

alamat lengkap bisa anda baca sendiri di spanduk warung ini
ancer-ancernya lampu merah Stasiun Balapan ke utara, 
sebelum palang rel kereta belok kebarat, sekitar 30meter

Minggu, 05 November 2017

Workshop Urban Farming dan Pasar Sehat Nalico di Kerten Solo

Setelah kita mengunjungi berbagai aksi menanam di
Jalan-Jalan ke Kebun Gizi Ngemplak Sutan Solo (4)
Tanam Hijau dan Pasar Sehat Bersama Nalico dan Parklight Project di Gulon Jebres Solo
Pertanian Warga Kenteng Asri
Menanam di Bumi Laweyan Bersama Tales dan Gropesh Solo

Agaknya warga Solo makin banyak yang mulai sadar lingkungan dan melakukan penghijauan di kampung masing-masing

Kali ini kita akan melihat keseruan workshop atau pelatihan Urban Farming di kampung Kerten bersama ibu Ester Tien dari Cat Village Urban Farming

Sekaligus melihat aneka olahan sehat dari Pasar Sehat Nalico

Komplit kan, dapat ilmu menanam sekaligus bisa belanja sayur dan aneka makanan sehat


acara ini diadakan hari minggu, bertepatan dengan jadwal saya ikut bibit puisi di CFD Solo
jadi saya datang agak terlambat, workshop menanam sudah dimulai

bu Ester Tien yang sudah saya ulas sebelumnya di Cat Village
menjelaskan tentang menanam sayur dilahan sempit dengan alat barang-barang bekas
difoto nampak bu Ester menanam sayur kangkung dengan metode sumbu (wick)
alat yang dipakai styrofoam bekas dari toko buah dan gelas air mineral bekas
murah, mudah, dan bisa diaplikasikan oleh ibu rumah tangga

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...