Jumat, 09 Juni 2017

Belajar Menanam Bersama "Respect Others" di RSJ Solo

Sebelumnya tentang Komunitas Respect Others 
http://mewalik-jaya.blogspot.co.id/2017/04/workshop-tanah-liat-bersama-komunitas.html

Anda pasti pernah mendengar cerita Malin Kundang, seorang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya sendiri

Cerita rakyat dari Sumatera Barat ini mengisahkan seorang ibu tunggal yang membesarkan anaknya sendirian, ketika beranjak dewasa sang anak merantau untuk mencari kekayaan

Dan ketika sang anak telah sukses menjadi seorang kaya raya dia pulang ke kampung halamannya, disana dia bertemu dengan ibu kandungnya

Sayangnya Malin menolak untuk mengakui ibunya sendiri, karena marah sang ibu pun mengutuk Malin menjadi batu

Tentu cerita ini hanyalah dongeng atau mitos belaka, yang diceritakan ke anak-anak menjelang tidur dengan harapan anak kita nanti besar tidak menjadi orang yang sombong seperti Malin Kundang

Tapi bagaimana jika kita mencoba melihat cerita ini dari sisi lain?

Mencoba memahami dongeng ini dengan sisi yang sedikit humanis

Pertama, mari kita lihat dari keinginan Malin untuk berlayar dengan istrinya kembali ke kampung halaman

Setelah sukses diperantauan dalam mencari harta dan keluarga, Malin masih ingat kampung halaman tempat dia lahir dulu

Untuk apa? Tentu untuk bertemu dengan ibunya yang dulu membesarkan dikala susah

Jadi bagaimana seandainya Malin bukan melupakan ibunya? Tapi dia benar-benar tidak bisa mengenali ibunya setelah berpisah sekian tahun?

Tidak disebutkan detail keadaan ekonomi Ibu Malin ketika masih kecil, yang jelas ketika ditinggal pergi merantau keadaan Ibu Malin bertambah miskin dan bertambah tua

Mungkin saja dalam benak Malin keadaan Ibunya masih seperti dulu, kalaupun berubah hanya sedikit dalam hal umur

Malin yang datang dengan keluarga baru dan segala kekayaannya tiba-tiba dihadapkan dengan seorang perempuan tua yang mengaku sebagai ibu kandungnya

Karena dalam benak Malin terpatri bayangan ibunya waktu masih muda dulu, dia kaget dan menolak seorang tua renta dihadapannya

Jadi persoalannya adalah bukannya tidak mau mengakui ibunya, tapi sebab Malin sudah tidak mengenal lagi ibunya yang tua dan jatuh miskin karena mereka sudah terpisah jauh dan lama sekali

Apakah mungkin seorang anak melupakan ibunya sendiri setelah terpisah bertahun-tahun?

Ada cerita lain yang mirip walaupun lokasi terpaut jauh

Ya betul....cerita tentang Sangkuriang

Bedanya Sangkuriang tidak mengenali lagi ibunya, karena si ibu awet muda dan tetap cantik setelah berpisah sekian lama (bisa dimaklumi karena pola makan dan alam Sunda membuat perempuan disana awet muda dan cantik)

Maksud cerita saya diatas adalah kita tidak bisa memandang keadaan seseorang hanya dari luarnya saja, masih banyak faktor lain dalam hidupnya yang mempengaruhi perilaku seseorang

Pernahkan anda agak terganggu bertemu dengan anak yang bandel atau nakal? mungkin saja anak tersebut hiperaktif

Atau berdiskusi dengan seorang bapak separuh baya yang sering lupa dan terus mengulang pertanyaan-pertanyaan? bisa saja beliau demensia

Mengecap buruk tetangga yang mengalami gangguan jiwa? mungkin saja tetangga kita itu mengalami tekanan hidup yang sangat kuat, dan sikap tak peduli kita malah membuatnya semakin buruk

Di Respect Other saya belajar banyak tentang hal ini, bagaimana memahami dan menghargai seseorang lebih manusiawi

Bertemu dan berinteraksi lebih dalam dengan saudara kita yang menyandang difabel, gangguan jiwa, penyakit berbahaya, dll



Kali ini tim Respect Other berkunjung ke RSJ Kentingan Solo untuk memberi pelatihan menanam sayur dengan sampah botol air mineral

Diharapkan teman-teman RSJ bisa menanam pangan sendiri sebagai pengisi kegiatan ketika sudah pulang ke rumah masing-masing



karena tema utamanya memanfaatkan sampah botol untuk menanam dilahan terbatas maka saya dan mas Wimbo yang kebagian tugas memberi penjelasan 
kepada teman-teman RSJ

foto bagian muka sengaja diblur untuk menjaga kerahasiaan identitas


setelah diberi penjelasan, langkah selanjutnya adalah praktek menanam


ibu Kristiana sibuk menjelaskan jenis sayur dan cara menanam yang benar


beberapa teman RSJ yang dirumah berprofesi menjadi petani dengan cekatan mengisi botol dengan tanah dan biji sayur


diberi plant label agar tidak terlupa jenis biji yang disemai

setelah semua selesai menyemai
maka beberapa peserta maju kedepan untuk menjelaskan urutan menanam 
yang tadi sudah dilakukan


botol bekas yang sudah ditanami ditaruh lokasi yang terkena sinar matahari pagi
dan tidak lupa rutin disiram tiap hari

sementara ibu Kristiana masih melanjutkan dengan memberi penjelasan 
teknik menanam dengan media air
seperti yang anda lihat, teman-teman RSJ  selama kegiatan ini memperhatikan 
dan mempraktekan dengan seksama
layaknya mahasiswa belajar dikampus yang haus akan pengetahuan


jangan salah, penghuni disini juga mengelola kebun sayur sendiri
ini adalah kebun sayur dibelakang ruangan rehabilitasi yang dikelola dan dirawat oleh teman-teman RSJ

tanah yang dikelola pun lumayan luas
ada sawi, tomat, pepaya, bayam, dll

semuanya terawat dan subur lo!
        

1 komentar:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...