Selasa, 11 Agustus 2015

Jalan-Jalan Ke Museum Sangiran (Klaster Ngebung)

Tujuan kedua setelah klaster Krikilan adalah Klaster Ngebung

Entah apa benar urutan kami dalam mengunjungi tiap klaster ini, karena pedoman kami hanyalah mengunjungi lokasi paling dekat dari klaster sebelumnya

Supaya kalau waktu terburu sore kami bisa menyelesaikan kunjungan ini, dan dapat menyelesaikan titik klaster paling banyak

Untuk pencarian lokasi jangan takut tersesat, rambu petunjuk yang menandakan lokasi Klaster Ngebung sudah banyak dipasang ditiap tikungan atau perempatan

Tinggal memasang awas mata kita dan menuruti arah petunjuk rambu agar tidak tersesat


 rambu yang tersedia cukup memadai agar kita tak tersesat

Kemungkinan terburuknya anda tersesat, salah belok atau yang kami alami yaitu salah baca rambu he3x

Kami punya tipsnya.....

Anda tinggal mencari rumah terdekat, matikan motor, buka helm, datangi penduduk setempat, sapa dengan ramah, dan minta petunjuk yang benar

Cara ini hampir 90% berhasil dan mudah, dibanding anda memakai GPS (sinyal agak susah disini)

Info resmi yang kami dapat dari web resmi pemerintah Sragen

Klaster Ngebung
Situs Ngebung memiliki nilai sejarah yang signifikan karena disanalah lokasi pertama kali dilakukan penggalian secara sistematis dengan hasil yang menakjubkan. Di Klaster Ngebung ini, ditampilkan para peneliti dalam upaya mengeksplorasi potensi Situs Sangiran. Kegiatan tokoh-tokoh seperti Raden Saleh, J.C. van Es, Eugene Dubois, G.H.R von Konigswald, disajikan dengan informasi yang lengkap baik secara visual maupun digital interaktif.

Penemuan jejak manusia purba berikut mitos yang berkembang di masyarakat dijelaskan dengan lengkap, disertai display koleksi temuan-temuan fosil dari Situs Ngebung.

Sebagai ladang penelitian mengenai manusia purba Situs Ngebung menjadi tempat yang produktif menghasilkan temuan fosil binatang, artefak, dan sisa-sisa manusia. Berbagai teori telah berkembang sejalan dengan temuan-temuan di Situs Ngebung. Beberapa teknik analisis untuk menjawab persoalan tersebut disajikan dalam bentuk visual dan interaktif.



 setelah15-20 menit plus sedikit tersesat
sampai juga di Klaster Ngebung


 tidak ada pungutan atau karcis masuk seperti di Klaster Krikilan
gratisss...cuma nulis di buku tamu, dan bayar pakir Rp 2.000

 Ruang Diorama

 isinya....
cuma diorama para arkeolog dalam mencari fosil he3x
tapi dibelakang diorama ini ada beberapa LCD yang memutar film tentang manusia purba

 memasuki Ruang Pamer 1

 berbagai ilmuwan yang berjasa dalam eksplorasi di Sangiran

ternyata Raden Saleh pelukis terkenal itu ikut berperan juga lo!


 layar informatif seperti ini akan banyak anda temui disudut-sudut museum
datangi dan dapatkan informasi yang berharga
(karena tidak ada guide/penjaga yang menjelaskan disini, anda harus aktif sendiri)

 loh kok!
ada toko obat China didalam museum??

 tidak ada properti yang dirusak disini ya ^_^

 oohh...ternyata toko obat China juga berperan dalam pencarian fosil di Sangiran
tulang belulang hewan purba sering dijual warga ke toko obat China
untuk dijadikan obat! he3x 
 diorama contoh pengobatan tradisional warga jaman dahulu
dengan menggunakan fosil purba

 informasi beberapa ilmuwan yang mengadakan penelitian di Sangiran

 warga lokal yang ikut dalam penggalian fosil di Sangiran

 wiihhh
ada kelas belajarnya juga lo

 anda penasaran bagaimana membedakan batu alat manusia purba dengan batu alam?

 begini cara melihat perbedaan batunya

 masuk ke Ruang Pamer 3, ruang terakhir

begitu masuk anda akan disambut fosil tulang Stegodon 
 karena sepi pengunjung
terpaksa foto bergantian :(
penjelasan bagian-bagian rangka Stegodon
dimeja bawah ada beberapa peralatan yang digunakan dalam penggalian

diakhir kunjungan anda bisa meninggalkan 
sedikit saran dan kritik kepada pihak pengelola

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...