Minggu, 16 November 2014

Pranata Mangsa

Musim atau cuaca adalah faktor yang sangat penting dalam menanam

Perbedaaan musim menentukan bagaimana cara kita menanam, jenis sayur yang ditanam, dan kemunculan hama yang berbeda-beda

Bagi pemula hal ini kurang diperhatikan, faktor ini seringkali menyebabkan kegagalan dalam menanam bagi pemula

Misal, menanam kacang-kacangan di musim hujan yang basah, hal tersebut pernah saya lakukan dan hasilnya benih tidak mau berkecambah malah busuk he3x

Para leluhur kita sangat menyadari betapa pentingnya faktor cuaca dalam menanam

Saking pentingnya sampai para leluhur kita membuat apa yang disebut Pranata Mangsa atau Aturan Musim Menanam



1. Kasa, mulai 22 Juni, berusia 41 hari.
Para petani membakar dami yang tertinggal di sawah dan pada masa tersebut dimulai menanam palawija, sejenis belalang masuk ke tanah, daun-daunan berjatuhan. Penampakannya/ibaratnya : lir sotya (dedaunan) murca saka ngembanan (kayu-kayuan).

2. Karo, mulai 2 Agustus, berusia 23 hari.
Palawija mulai tumbuh, pohon randu dan mangga, tanah mulai retak/berlubang. Penampakannya/ibaratnya : bantala (tanah) rengka (retak). Musim kapok bertunas tanam palawija kedua.

3. Katiga, mulai 25 Agustus, berusia 24 hari.
Musim/waktunya lahan tidak ditanami, sebab panas sekali dan palawija mulai dipanen, berbagai jenis bambu tumbuh. Penampakannya/ibaratnya : suta (anak) manut ing Bapa (lanjaran). Musim ubi-ubian bertunas panen palawija.

4. Kapat, mulai 19 September, berusia 25 hari.
Sawah tidak ada (jarang) tanaman, karena musim kemarau, para petani mulai menggarap sawah untuk ditanami padi gaga, pohon kapuk mulai berbuah, burung-burung kecil mulai bertelur. Penampakannya/ibaratnya : waspa kumembeng jroning kalbu (sumber). Musim sumur kering, kapuk berbuah, tanam pisang. Pada masa ini kemarau berakhir.

5. Kalima, mulai 14 Oktober, berusia 27 hari.
Mulai ada hujan, selokan sawah diperbaiki dan membuat rorak/selokan untuk tempat mengalirkan air di pinggir sawah, mulai menyebar padi gaga, pohon Asem mulai tumbuh daun muda, ulat-ulat mulai keluar. Penampakannya/ibaratnya : pancuran (hujan) emas sumawur (hujannya) ing jagad. Musim turun hujan, pohon Asam bertunas, pohon Kunyit berdaun muda.

6. Kanem, mulai 10 November, berusia 43 hari.
Para petani mulai menyebar bibit tanaman padi di pembenihan, banyak buah-buahan (durian, rambutan, manggis), burung blibis mulai kelihatan di tempat-tempat berair. Penampakannya/ibaratnya : rasa mulya kasucian (sedang banyak-banyaknya buah-buahan). Musim buah-buahan mulai tua, mulai menggarap sawah.

7. Kapitu, mulai 23 Desmber, usianya 43 hari.
Benih padi mulai ditanam di sawah, banyak hujan, banyak sungai yang banjir. Penampakannya/ibaratnya : wisa kentar ing ing maruta (bisa larut dengan angin, saat banyak penyakit). Musim banjir, badai longsor mulai tandur.

8. Kawolu, mulai 4 Februari, usianya 26 hari, atau 4 tahun sekali 27 hari.
Padi mulai hijau, uret mulai banyak. Penampakannya/ibaratnya : anjrah jroning kayun (merata dalam keinginan, musimnya kucing kawin). Musim padi beristirahat, banyak ulat, banyak penyakit.

9. Kasanga, mulai 1 Maret, usianya 25 hari.
Padi mulai berkembang dan sebagian sudah berbuah, jangkrik mulai muncul, kucing mulai kawin, cenggeret mulai bersuara. Penampakannya/ibaratnya : wedaring wacara mulya (binatang tanah dan pohon mulai bersuara). Musim padi berbunga, Turaes (sebangsa serangga) ramai berbunyi.

10. Kasepuluh, mulai 26 Maret, usianya 24 hari.
Padi mulai menguning, mulai panen, banyak hewan bunting, burung-burung kecil mulai menetas telurnya. Penampakannya/ibaratnya : gedong minep jroning kalbu (masa hewan sedang bunting). Musim padi berisi tapi masih hijau, burung-burung membuat sarang, tanam palawija di lahan kering.

11. Desta, mulai 19 April, berusia 23 hari.
Seluruhnya memanen padi. Penampakannya/ibaratnya: sotya (anak burung) sinara wedi (disuapi makanan). Masih ada waktu untuk palawija, burung-burung menyuapi anaknya.

12. Sadha, mulai 12 Mei, berusia 41 hari.
Para petani mulai menjemur padi dan memasukkan ke lumbung. Di sawah hanya tersisa jerami. Penampakannya/ibaratnya : tirta (keringat) sah saking sasana (badan) (air pergi dari sumbernya, masa ini musim dingin, jarang orang berkeringat, sebab sangat dingin). Musim menumpuk jerami, tanda-tanda udara dingin pada pagi hari.

Dari Pranata Mangsa itu diketahui bahwa pada bulan Desember-Januari-Februari adalah musimnya badai, hujan, banjir dan longsor. Mendekati kecocokan dengan situasi alam sekarang dan jadwal itu sesuai dengan perubahan iklim yang telah disepakati bersama.

Selanjutnya pada musim Kawolu antara 2 atau 3 Februari sampai 1 atau 2 Maret, bersiap-siaga waspada menghadapi penyakit tanaman maupun wabah bagi manusia dan hewan, mungkin akibat dari banjir, badai dan longsor tersebut akan berdampak menyebarnya penyakit dan kelaparan. Hal tersebut masuk akal, karena manusia atau binatang bahkan tanamanpun belum siap mempertahankan diri dari serangan hama penyakit.

Kaitannya dengan para nelayan, mereka melaut sambil membaca alam dengan melihat letak bintang yang dianggap patokan yang selalu menemani saat melaut. Sudah tentu mereka mengetahui pada bulan-bulan berapa mereka saat yang baik melaut dan akan mendapatkan ikan banyak. Sebaliknya mereka mengetahui saat-saat tidak melaut, karena berbahaya dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Pada saat itulah mereka gunakan waktu untuk memperbaiki jaring-jaring yang rusak, memperbaiki rumah dan pekerjaan selain melaut, sehingga mereka dapat mengurangi risiko dan mencegah biaya produksi tinggi

Pranata mangsa adalah aturan waktu musim, yang berdasar pada kalender Masehi (solar calendar). Ada kemungkinan bahwa kalender Pranata Mangsa ini termasuk dari 40 sistem kalender yang oleh sebuah studi tahun 1987 digunakan di dunia dan dikenal dalam pergaulan internasional dan lebih spesifik hanya dikategorikan dalam tiga mazhab besar, yaitu : sistem Kalender Masehi/Syamsiah (solar calendar), kalender Qomariah (lunar calendar) dan Lunisolar, sehingga kalender Pranata Mangsa mengacu pada sistem kalender yang perhitungannya berdasarkan perjalanan bumi saat melakukan revolusi mengorbit matahari. Kalender Pranata Mangsa juga mengenal tahun kabisat dan basithah yang dikenal dengan wastu dan wuntu. Hal itu dilakukan sama persis dengan sistem kalender Syamsiah agar tetap sinkron dengan tahun tropis (musim). Untuk menjaga sinkronisasi inilah, maka jumlah harinya disisipi dalam bentuk tahun kabisat (leap year) sebagai tambahan pada jumlah hari rata-rata kalender tersebut.

Semoga kearifan lokal ini berguna bagi anda yang mulai untuk bercocok tanam

diambil dari DPPKP Purworejo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...