Minggu, 19 Januari 2014

Pedoman Menguliti Kelinci

Video tentang menguliti kelinci yg bagus sekali

Perhatikan bagaimana melepas jalinan antar tulang yg benar



Sembelih Kelinci

Ada satu kelinci saya yang paling saya khawatirkan kondisinya, si kelinci bulu putih


Sebelumnya saya sudah diingatkan penjual kelinci bahwa kelinci jenis ini (mata merah, bulu putih) gampang mati, mungkin karena gen albinonya kali ya...

Tapi saya nekat aja, karena 4ekor sebelumnya sehat2 aja di rumah (ini beli terakhir)

Benar juga, setelah berhari2 cuaca dingin + mendung, tidaka ada sinar matahari, kelinci ini mulai terlihat lemah. Dipanggil tidak mau datang, diam, gak lincah gitu


Puncaknya tadi pagi sudah mulai gak mau makan, diangkat cuma lemas....terpaksa saya sembelih sebelum jadi bangkai 


Menguliti kelinci ternyata gampang banget...tinggal tarik, beres!

Sekarang kulitnya, saya coba untuk keringkan siapa tahu bisa saya jadikan topi he3x


 kursi kayu jadi korban, buat alas  he3x
jangan lupa paku pojok2nya biar kenceng

 kasih garam, untuk mencegah/memperlambat pembusukan

jemur
semoga ada panas hari ini


Sisa tinggal jerohan dan kepala, karena saya gak doyan jerohan maka saya kembalikan ke alam


Apa yg telah saya ambil saya kembalikan ke asal, semoga bisa menjadi sumber nitrogen yg bagus untuk perkembangan rumput2 di kebun saya

Sabtu, 18 Januari 2014

Iseng

Karena jam tangan sehari-hari saya sedang masuk UGD, terpaksa pakai jam lawas merk Titoni

Jam tangan ini biasanya saya simpen, cuma dipakai waktu acara resmi


Budidaya Kelinci di Rumput

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, selain bisa memenuhi produksi tanaman pangan maka project saya harus bisa memenuhi kebutuhan protein (daging) sendiri secara MANDIRI.

Agak lama saya berpikir, kalau saya budidaya bebek memang bisa pakan saya cari di warung-warung sebelah atau saya cari keong disawah.

Tapi itu berarti melanggar misi saya yang nomor satu, yaitu menekan tenaga manusia sekecil-kecilnya.

Belum kalau keong susah dicari, terpaksa saya harus mengeluarkan uang membeli pakan pabrikan

Kebetulan sekali saya membuka video lama, video 'Sang Petani Rumput' Joel Salatin


Si Salatin ini mempunyai peternakan tumpangsari, kenapa tumpangsari karena beliau mencampur berbagai macam ternak dalam lahannya.

Sedikit review dari saya;

Pertama padang rumput dikapling untuk dimasukkan Sapi, agar tidak keluar maka sapi dipagari kawat berlistrik.

Hanya satu hari maka sapi-sapi ini dipindah ke kapling lainnya. Kapling yang lama tentu banyak kotoran yang tertinggal, rumputnya pun tidak habis termakan karena hanya satu hari sapi mendiami satu kapling

Selang 3 hari kapling ini diisi dengan ayam, kenapa 3 hari? Karena dalam jangka waktu 3 hari diharapkan lalat akan datang dan bertelur di kotoran sapi yang tertinggal.

Ini akan menghasilkan maggot, maggot ini sumber pakan sempurna bagi ayam. Tentu selain maggot, ayam juga akan sedikit memakan rumput.

Rumput pun akan tumbuh kembali dengan sehat karena mendapat pupuk kandang gratis dari ayam dan sapi

Tapi ada satu kendala, sistem tersebut membutuhkan lahan luas. Bagaimana kalau lahan saya sempit?

Joel Salatin juga memberi ide, jika lahan kita sempit ternak kita ganti dengan kelinci atau marmut.


Dengan pertimbangan sifat dan jumlah daging yang dihasilkan maka kelincilah yang akhirnya saya pilih,


nb: kandang kelinci dalam gambar belum terwujud karena kekurangan dana,untuk menghindari predator sementara kelinci dimasukkan kandang ayam tiap malam

Jalur hijau itulah 'trek' berjalannya kandang kelinci (yg berwarna orange tua), tiap satu hari kandang kelinci saya pindah

Rumput tidak terbabat habis karena cuma satu hari, dalam 7-10 hari akan tumbuh kembali dengan lebat karena mendapat pupuk alami dari Kelinci

Praktis saya tidak mengeluarkan sepeserpun uang untuk membeli pakan

Kematian karena salah makan pun dapat ditekan, karena kelinci akan memilih sendiri jenis rumput apa yang dia suka

Dan alhamdulilah sudah hampir satu bulan lebih kelinci saya sehat2 saja, dulu sebelum pakai metode ini hampir pasti kelinci yang saya beli cuma bertahan satu minggu

Kendalanya populasi kelinci harus dikontrol, karena jika terlalu banyak maka rumput sebagai pakan alami dan gratis ini tidak akan mencukupi.

Perhitungan saya cuma 9 ekor kelinci nantinya yang dapat hidup nyaman sesuai luas lahan saya.

Sisanya? Sisanya akan memenuhi kodratnya sebagi ternak, yaitu kita sembelih untuk dimasak he3x


 kelinci tidak suka panas matahari langsung
beri penutup agar teduh

 ini rahasianya
agar mudah dipindah pakai pasak dari bambu





Raised Bed Project III

Akhirnya setelah semua selesai....fiuhhh!








Raised Bed Project II

Ide akan selamanya ide jika tidak ditarik ke alam nyata, tidak akan bermanfaat, hanya menjadi angan-angan teman mimpi.

Untuk itu setelah hampir berbulan-bulan mencari ide maka tahap selanjutnya membangun raised bed.

Saya sudah lupa berapa juta yang saya habiskan untuk ini, yang jelas saya sampai tidak bisa membeli paket internet bulanan untuk mengupdate blog saya ha3x

Sedikit prosesnya:
 babat alas


 sisa babat alas, 
ranting yang nanti akan dijadikan pupuk

 proses pembuatan raised bed
terlihat pagar bambu sudah diganti besi

 pakai batako karena lebih awet, walaupun mahal

Proses agak terhenti karena tukang kurang ahli, dengan dana yang semakin menipis jika saya lanjutkan akan banyak dana yg terbuang sia-sia.

Maka diputuskan  project saya lanjutkan dengan tenaga sendiri, benar-benar tenaga sendiri

Mulai dari macul, ngaduk semen, pasang batako, meratakan tanah semua saya kerjakan sendiri.

Ini juga yang menyebabkan saya jarang menulis di blog, bagaimana mau berpikir untuk menulis jika tiap sore raga ini sudah kepayahan mengurus pekerjaan rumah dan pekerjaan kebun.

Target pembangunan yang semula hanya seminggu molor menjadi satu bulan!
Dikarenakan saya belum berpengalaman memasang batako, juga karena tenaga yang terbatas

 Sudah mulai terbentuk seperti di gambar rencana

 Ranting dibakar untuk kemudian ditimbun sebagai pupuk



Sisa tanaman cabai penghuni lama dibabat, diambil paksa buahnya yang masih muda

Raised Bed Project I

Mohon maaf kalau saya berhibernasi lama sekali

Berbulan-bulan berhenti update blog bukan karena saya malas menulis atau sudah tidak ada hasrat lagi, tapi karena waktu dan raga tercurahkan untuk project saya setelah vertikultur PVC.

Seperti yg anda tahu project vertikultur saya lumayan sukses, saya katakan 'lumayan sukses' karena cara bertanam ini berjalan lancar tapi masih ada satu kekurangan.

Cara bertanam ini masih memerlukan tenaga manusia yang cukup besar dalam perawatannya, yaitu penyiramnya yg masih manual dan penggantian tanah tiap panen selesai.

Untuk itu saya mulai berpikir, tanah kosong sisa harus bisa memproduksi pangan dengan minim perawatan tapi dengan hasil yang tidak kalah banyak.

Mulailah saya riset, cara apa yg paling cocok. Buka-buka file akhirnya ketemu dengan sistem pertanian alami milik Masanobu Fukuoka dan Permaculture yg hampir sama sistemnya. Tidak lupa metode peternakan Joel Salatin yang hemat tenaga dan biaya.

Tapi ketiga cara tadi menurut saya membutuhkan lahan yg lumayan luas agar sistem dapat berjalan.

Untuk itu saya memutuskan untuk mengambil bagian-bagian yang dirasa berguna dan menerapkannya sesuai dengan keadaan alam di tanah saya.

Luas lahan tentu menjadi kendala utama, sisa lahan saya setelah dikurangi kolam lele dan vertilkultur PVc hanyalah kurang lebih 100m2.

Di 100m2 ini saya harus bisa menghasilkan secara mandiri kaborhidrat, nutrisi, dan tentu protein (daging).

Kolam lele tidak saya masukkan sebagai pemenuhan protein secara mandiri karena kolam lele saya maksimalkan untuk profit atau hanya saya ambil bentuk 'uang' sebagai hasil akhirnya.

Berikut sedikit pembahasan poin2 yg saya sesuaikan di kebun saya

Pertanian Alami Masanobu Fukuoka
Banyak sekali teknik Masanobu Fukuoka yg sesuai dengan misi saya
-Tanpa Pembajakan
-Tanpa Pupuk
-Tanpa Penyiangan rumput
-Tanpa Pestisida
Itu semua saya ambil dan akan saya tanamkan di kebun saya

Permaculture
Permaculture mengajarkan kita untuk menanam tanaman yang awet, bisa dipanen terus menerus, tanpa penggantian tanaman setiap selesai panen.

Istilah bulenya disebut Perennial plant, tanaman yg termasuk kategori ini di Indonesia adalah Singkong, Pepaya, Katuk, Kemangi, dll. Semua tanaman yg saya sebutkan tadi bisa dipanen dalam jangka waktu tahunan, hemat tenaga dan hemat waktu.


Tentu saya membutuhkan juga sumber karbohidrat dan vitamin yg bukan termasuk perennial plant, maka dipilihlah Jagung manis, Sawi, Cabai, dan tanaman lain yg cocok dengan kondisi lingkungan.

Kondisi Tanah
Kualitas tanah dikebun saya buruk sekali, banyak batu dan sedikit tanah asli. Itu karena tanah disini tanah urukan, tanah yg diambil dari tempat lain untuk menutup tanah asli yang lebih rendah dari jalan

Karena tanah disini rendah, ketika banjir maka air akan menggenang untuk itu saya harus membangun raised bed sebagai penampung tanah kualitas terbaik agar tanaman-tanaman saya bisa tumbuh maksimal dan tidak hanyut terkena banjir.

Konsep awal kebun yang saya tuangkan ke dalam gambar;


berikut sedikit keterangan
  • Raised Bed untuk sayur, cabai, dan jagung
  • Sisi diluar raised bed untuk Perennial plant, seperti singkong, pepaya, katuk, dll
  • Di tengah ada kandang kelinci dengan jalur hijau sebagi rumput untuk sumber makanan kelinci. Di tembok tergantung kandang kelinci

Seperti yg bisa anda lihat, porsi raised bed untuk tanaman musiman lebih besar dibandingkan lahan untuk Perennial Plant. Itu karena saya pribadi lebih sedikit mengkonsumsi tanaman Perennial Plant.

Itulah sedikit coretan saya tentang apa yg saya research selama masa hibernasi saya
Maaf jika belepotan, maklum sudah lama gak nyentuh keyboard he3x

Untuk metode beternak kelinci ala Joel Salatin akan saya sambung dibeda tulisan



LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...